Anak Sudan.(Al Jazeera)
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras mengenai masa depan generasi muda di Sudan. Lebih dari 8 juta anak usia sekolah di negara tersebut kini tidak dapat mengenyam pendidikan akibat perang saudara yang terus berkecamuk selama lebih dari tiga tahun.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Amina Mohammed, menyampaikan peringatan tersebut pada sesi informal Dewan Keamanan PBB mengenai perlindungan pendidikan di Sudan, Jumat (7/8). Saat ini, konflik bersenjata di Sudan telah memasuki hari ke-1.210.
"Di antara semua hal yang dirampas oleh perang ini, salah satu yang paling signifikan adalah masa depan Sudan--dengan merampas pendidikan anak-anaknya," ujar Mohammed. Ia memperingatkan bahwa konflik ini sedang menghancurkan masa depan seluruh generasi.
Kerusakan Infrastruktur Pendidikan
Data PBB menunjukkan dampak yang sangat parah di wilayah Darfur. Hampir tiga perempat sekolah di wilayah tersebut rusak, hancur, atau tidak dapat digunakan lagi sejak pertempuran pecah pada April 2023.
Kondisi keamanan yang buruk membuat para orangtua enggan melepas anak-anak mereka. "Lima dari setiap enam anak putus sekolah. Orangtua akan memberi tahu Anda bahwa mereka lebih suka membiarkan anak-anak tetap di rumah daripada mengirim mereka ke kelas, karena rumah adalah satu-satunya tempat tersisa bagi mereka merasa bisa menjaga keamanan anak-anak," tambah Mohammed.
Sejak tahun 2024, PBB telah mendokumentasikan lebih dari 67 serangan terhadap sekolah dan lebih dari 154 kasus sekolah yang dialihfungsikan untuk kepentingan militer. Mohammed mencatat bahwa angka-angka ini kemungkinan besar jauh di bawah jumlah sebenarnya di lapangan.
Krisis Guru dan Tenaga Pendidik
Selain kerusakan fisik bangunan, sektor pendidikan Sudan juga dihantam krisis kesejahteraan tenaga pengajar. Lebih dari separuh guru di Sudan dilaporkan tidak menerima gaji, meskipun banyak dari mereka tetap berusaha mengajar di tengah segala keterbatasan.
"Sudan telah kehilangan satu generasi akibat perang-perang sebelumnya dan sekarang mereka kehilangan satu generasi lagi," kata Mohammed. Ia menekankan bahwa beban konflik ini jatuh secara tidak proporsional pada perempuan dan anak-anak yang tidak memiliki andil dalam perang tetapi menderita paling parah.
Meskipun PBB dan mitranya berhasil membawa kembali lebih dari satu juta anak Sudan ke dalam berbagai bentuk pembelajaran tahun ini, jumlah tersebut masih jauh dari total kebutuhan yang ada.
Bencana Hak Asasi Manusia
Konflik yang melibatkan tentara Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) ini memicu krisis kemanusiaan skala besar. UNICEF melaporkan sekitar 15 juta orang telah mengungsi, dengan hampir 33 juta orang--lebih dari separuhnya ialah anak-anak--sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, yang mengunjungi Sudan awal tahun ini, menggambarkan situasi tersebut sebagai bencana hak asasi manusia yang terjadi secara real-time. Ia menyoroti laporan mengenai pembunuhan massal dan kekerasan seksual yang terus terjadi selama konflik berlangsung. (Al Jazeera/I-2)

















































