PBKM Gelar Konferensi Asia Pasifik Perkuat Peran Perempuan dan Ketahanan Keluarga

1 week ago 8
PBKM Gelar Konferensi Asia Pasifik Perkuat Peran Perempuan dan Ketahanan Keluarga Konferensi Keluarga Asia Pasifik yang diadakan PKBM(MI/HO)

PEREMPUAN memegang peran sentral yang kompleks dalam struktur keluarga, baik sebagai pendidik utama generasi penerus maupun penopang ekonomi harian. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kontribusi besar perempuan, baik di ranah domestik maupun publik, sering kali masih dikesampingkan.

Merespons kondisi tersebut, Pusat Belajar Keluarga Madani (PBKM) menyelenggarakan konferensi internasional di Jakarta pada Sabtu (12/9). Forum ini bertujuan mendiskusikan arah kebijakan dan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan keluarga di kawasan Asia Pasifik.

Dengan tema “Resiliensi Keluarga dan Kemajuan Negara-Negara Sekawasan: Menguatkan Peran dan Kepemimpinan Perempuan di Asia Pasifik”, konferensi ini menegaskan bahwa penguatan peran perempuan adalah kunci utama menciptakan ekosistem keluarga yang tangguh.

Tantangan Global dan Kerentanan Keluarga

Keluarga di kawasan Asia Pasifik saat ini menghadapi berbagai ancaman eksternal yang signifikan. Krisis iklim, ketidakstabilan ekonomi, hingga minimnya perlindungan hukum menjadi faktor utama yang meningkatkan kerentanan perempuan.

Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan, akses kesehatan yang terbatas, serta pemahaman agama yang belum komprehensif menjadi isu kritis yang memengaruhi masa depan perempuan di sejumlah negara anggota.

Berikut adalah detail pelaksanaan dan cakupan peserta konferensi tersebut:

Aspek Keterangan
Penyelenggara Pusat Belajar Keluarga Madani (PBKM)
Lokasi & Waktu Jakarta, Sabtu (12/09)
Negara Peserta Indonesia, Malaysia, Brunei, Srilanka, Filipina, dan Tailan
Fokus Utama Resiliensi Keluarga, Kepemimpinan Perempuan, Perlindungan Hukum, dan Edukasi

Sinergi Suami-Istri dan Kepemimpinan Perempuan

Dalam diskusi panel, Ketua PBKM Dr. Aan Rohana, Lc, M.Ag, bersama Prof. Dr. H. Achmad Satori Ismail, memaparkan fase peran perempuan mulai dari sebelum menikah, setelah menikah, hingga kiprahnya di tengah masyarakat. Keduanya sepakat bahwa perempuan adalah jantung sekaligus penggerak utama ketahanan keluarga.

Prof. Satori menekankan pentingnya konsep Sakinah yang hanya bisa dicapai melalui kerja sama yang baik antara suami dan istri.

"Mawaddah merupakan sarana untuk Sakinah. Baik saat masih muda dan saling cinta, maupun ketika sudah tua, ketenangan tetap terjaga karena adanya rahmah," jelasnya.

Senada dengan hal itu, Aan Rohana menghimbau agar perempuan diberikan ruang untuk berperan aktif sebagaimana laki-laki.

"Perempuan menentukan kualitas manusia. Sebagai penstabilitas keluarga, masyarakat, dan bangsa, peran perempuan sangat krusial," tegas Aan.

Aspirasi dan Rekomendasi Kebijakan

Konferensi ini juga menyerap aspirasi dari para praktisi di lapangan. Asmita dari organisasi Alisa Khadijah mengusulkan pembentukan Women Center yang dapat diakses secara gratis.

Menurutnya, perempuan yang sudah menikah memerlukan dukungan menyeluruh, termasuk akses pendidikan dan peluang ekonomi agar tetap memiliki pendapatan mandiri.

Selain itu, muncul sorotan mengenai tantangan ideologis yang terus berkembang, termasuk fenomena menurunnya kualitas peran laki-laki sebagai qowwam (pemimpin/pelindung) dalam keluarga yang perlu segera diantisipasi.

Sebagai penutup, forum ini menyepakati sejumlah rekomendasi konkret untuk mewujudkan ketahanan keluarga regional, antara lain:

  • Penguatan regulasi yang berpihak pada perlindungan hak perempuan.
  • Penyediaan layanan konseling keluarga yang terjangkau.
  • Gerakan edukasi keayahan (fatherhood) untuk memperkuat peran laki-laki.
  • Pembentukan kerangka ketahanan keluarga regional Asia Pasifik sebagai ekosistem pendukung lintas negara. (Z-1)
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |