Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan bersama pelaku UMKM yang mendapat akses permodalan dari Bank BJB.(DOK/PEMKOT BANDUNG)
PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung membuka keran akses pembiayaan yang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui kolaborasi dengan Bank bjb. Akses permodalan menjadi salah satu kebutuhan utama bagi UMKM untuk berkembang dan meningkatkan skala usahanya.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menerangkan, pemberian modal kredit oleh bjb merupakan salah satu upaya agar para pengusaha mikro mendapatkan akses ke dunia perbankan. Nilai kredit yang dapat diakses pelaku UMKM cukup beragam, mulai dari Rp5 juta hingga Rp1,5 miliar, tergantung skala usaha dan tingkat kelayakan usaha masing-masing.
Selain akses modal, Pemkot Bandung juga mendorong para pelaku usaha untuk melengkapi legalitas usaha agar lebih mudah mendapatkan dukungan pembiayaan.
"Pembangunan ekosistem UMKM membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pelaku usaha, perbankan, masyarakat sebagai konsumen, hingga pemerintah sebagai regulator. Karena bicara lingkungan dan saling berhubungan, yang paling pertama mesti dibangun ketika kita mau membangun sebuah ekosistem adalah pelakunya. Semua pelakunya sudah ada di sini, pertama pelaku UMKM,” ungkapnya pada kegiatan UMKM Hebat Kota Bandung Kuat Bersama Bank bjb di Balai Kota Bandung, Kamis (20/8).
Menurut Farhan, UMKM menjadi salah satu pengungkit ekonomi masyarakat. Karena itu, penguatan usaha mikro tidak harus selalu dimulai dari pasar yang jauh, tetapi dapat dibangun dengan memperkuat pasar di lingkungan sekitar.
Farhan menilai pengembangan UMKM menjadi semakin penting karena tingkat pengangguran terbuka di Kota Bandung masih berada di kisaran 7%. Karena itu, UMKM diharapkan mampu tumbuh dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Saat ini terdapat sekitar 12.000 UMKM yang telah terdaftar di Kota Bandung. Pertumbuhan omzet UMKM tersebut tercatat sekitar 25%, sedangkan pertumbuhan aset usaha rata-rata mencapai 10,9%.
JALAN BERSAMA
Direktur Utama Bank bjb, Ayi Subarna menjelaskan, penguatan UMKM merupakan bagian penting dari peran Bank bjb sebagai mitra pembangunan daerah. Hingga Juni 2026, Bank bjb secara konsolidasi mengelola aset sekitar Rp228 triliun dengan total kredit dan pembiayaan mencapai Rp140,4 triliun.
Pertumbuhan bank harus sejalan dengan pertumbuhan masyarakat dan dunia usaha.
"Hingga 31 Juli 2026 penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank bjb telah mencapai sekitar Rp405 miliar. Sementara outstanding pembiayaan UMKM mencapai sekitar Rp3,37 triliun. Keberhasilan pembiayaan bukan hanya tentang seberapa besar kredit yang disalurkan, tetapi sejauh mana pembiayaan tersebut mampu membuat usaha tumbuh, naik kelas, dan semakin mandiri,” tandasnya.
Menurut Ayi, kegiatan tersebut juga menjadi wadah mempertemukan pelaku UMKM dengan pengetahuan pembiayaan, pasar, dan peluang usaha. UMKM tidak bisa tumbuh sendirian. Pemerintah, regulator, perbankan, dan para pelaku UMKM harus berjalan bersama.













































