Ilustrasi pengobatan parkinson.(Dok. Magnific)
PENDERITA penyakit Parkinson sangat disarankan untuk menjaga kedisiplinan dalam mengonsumsi obat-obatan mereka. Apoteker klinis dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), apt. Nurul Ulya, menekankan bahwa kepatuhan minum obat sangat krusial untuk mencegah perburukan gejala motorik.
Nurul menjelaskan bahwa penghentian konsumsi obat secara sembarangan dapat memicu kekambuhan gejala yang signifikan. "Kalau putus obat jadi kambuh lagi, kaku otot, persendian jadi terganggu sehingga gejala parkinsonnya tidak bisa tertangani dengan baik. Jadi kalau bisa tidak putus obat," ujar Nurul dalam diskusi daring memperingati Hari Parkinson di Jakarta.
Aturan Frekuensi dan Jeda Minum Obat
Ketepatan waktu merupakan kunci utama dalam terapi Parkinson. Nurul merinci bahwa frekuensi minum obat harus disesuaikan dengan instruksi dokter untuk menjaga kadar obat dalam tubuh tetap stabil:
- 1 kali sehari: Diminum setiap 24 jam sekali.
- 2 kali sehari: Diminum setiap 12 jam sekali.
- 3 kali sehari: Diminum setiap 8 jam sekali.
Jika pasien tidak sengaja melewatkan jadwal minum obat, Nurul menyarankan agar obat segera diminum saat teringat. Namun, jadwal berikutnya harus disesuaikan kembali berdasarkan rentang waktu konsumsi terakhir tersebut.
Interaksi Obat Levodopa dan Makanan
Salah satu poin penting yang disoroti adalah cara konsumsi obat jenis levodopa. Nurul mengingatkan bahwa obat ini sebaiknya diminum saat perut kosong agar penyerapannya maksimal. Hal ini dikarenakan levodopa dapat berikatan dengan protein dari makanan, yang justru menghambat efektivitas obat.
"Harus dalam keadaan perut kosong. Levodopa akan berikatan dengan protein makanan jadi absorpsinya terganggu. Baiknya diminum 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan," jelasnya.
Bagi pasien Parkinson yang menggunakan selang makan (NGT), sangat disarankan untuk berkonsultasi kembali dengan dokter mengenai jenis obat yang boleh dihaluskan dan yang tidak, guna memastikan terapi tetap optimal.
Harapan Pemulihan dan Produktivitas
Kepatuhan terhadap jadwal obat dan kontrol rutin ke dokter diharapkan dapat mencegah perburukan kondisi saraf. Dengan terapi yang teratur, pasien Parkinson memiliki peluang besar untuk kembali menjalani rutinitas secara normal dan produktif.
Nurul menambahkan bahwa seiring dengan perbaikan gejala yang konsisten, tidak menutup kemungkinan dosis obat dapat dikurangi oleh dokter di masa mendatang. Kuncinya tetap pada kedisiplinan pasien dalam mengikuti protokol pengobatan yang telah ditetapkan. (Ant/H-3)














































