(Dok. Pribadi)
SALAH satu dampak paling ekstrem dari perubahan iklim terhadap pendidikan ialah bahaya di sekolah yang menyebabkan hilangnya nyawa anak dan guru di sekolah ketika bencana datang. Rajendra Dawadi, kepala sekolah menengah atas di Trishuli Valley, Nepal, kepada Associated Press (AP) menggambarkan dilema yang dihadapinya saat banjir bandang: keputusannya saat itu ialah antara kehilangan satu hari belajar atau kehilangan seluruh nyawa. Ia kemudian menghentikan kegiatan belajar-mengajar dan menyuruh sekitar 900 siswa dan guru menyelamatkan diri. Saat mencapai tempat yang lebih tinggi, ia melihat sekolahnya telah hanyut. Ia terduduk, tak mampu berkata apa-apa.
Keputusan serupa juga dialami banyak pendidik di Indonesia yang berada di daerah yang mengalami bencana, dari banjir, gempa, hingga kebakaran. Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dampak perubahan iklim di Indonesia mencakup sektor pangan dan pertanian, kesehatan dan tekanan panas, banjir dan longsor, serta ekosistem laut (World Bank, 2025).
BELAJAR YANG HILANG
Selama periode 2024, penutupan sekolah karena dampak perubahan iklim dialami sekitar 242 juta anak di seluruh dunia (Unicef, 2025). Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah November-Desember 2025, banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat berdampak pada 3.274 satuan pendidikan dan 276.249 siswa (Kemendikdasmen, 2026). Selain itu, Kemendikdasmen mencatat sebanyak 54.743 satuan pendidikan dengan lebih dari 6 juta murid di 12 provinsi Kalimantan berpotensi terpapar oleh asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sepanjang 2025 (Kemendikdasmen, 2026).
Penutupan sekolah dan berkurangnya waktu belajar efektif sering dipandang sebagai interupsi biasa. Padahal, interupsi itu akan semakin sering dan semakin lama. Kita perlu memaksimalkan waktu belajar yang ada agar siswa di daerah terdampak tidak semakin tertinggal.
PENDIDIKAN DALAM KRISIS
Menurut Newsome dkk (2023), pemanasan global menempatkan pendidikan dalam posisi dilematis: sekolah berpotensi menjadi motor penggerak penanganan krisis iklim, tetapi tanpa perlindungan memadai justru bisa menjadi korban bencana iklim. Karena itu, menurut Fischel dkk (2023), fasilitas sekolah memiliki tiga peran: pertama, sekolah tahan iklim yang mampu bertahan menghadapi cuaca ekstrem; kedua, sekolah ramah lingkungan yang menerapkan dekarbonisasi dan efisiensi sumber daya; ketiga, sekolah sebagai sarana edukasi yang menghubungkan kurikulum dengan ruang fisiknya.
Selain itu, skenario belajar-mengajar perlu ditinjau ulang untuk menyesuaikan dengan realitas pendidikan yang ada, ketika waktu dan tempat belajar yang efektif tidak lagi dapat diprediksi. Pola belajar konvensional yang sepenuhnya terjadwal dan terikat pada ruang kelas mungkin perlu diubah. Skenario belajar yang memaksimalkan belajar di kelas dan secara virtual mungkin perlu menjadi bagian skenario belajar normal. Belajar dari masa pandemi covid-19 dulu, transisi belajar secara daring perlu waktu dan keterampilan khusus. Seharusnya, sekolah perlu mempersiapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang adaptif saat akses menuju sekolah terganggu.
Namun, PJJ bukanlah solusi tunggal yang dapat menyelesaikan semua masalah. Efektivitasnya bergantung pada prasyarat yang tidak merata: akses internet, perangkat, literasi digital, dan dukungan psikososial, yang justru paling rapuh di daerah yang terdampak oleh bencana. PJJ hanyalah satu lapis dalam ekosistem solusi, bukan pengganti kehadiran sekolah.
KURIKULUM UNTUK BERTAHAN
Kurikulum sekolah juga perlu mengintegrasikan tema perubahan iklim disertai keterampilan yang relevan yang mendukung transisi menuju pembangunan berkelanjutan. Selain itu, orientasi pendidikan perlu disesuaikan agar masyarakat siap menghadapi dampak perubahan iklim di komunitas mereka. Hampir seluruh wilayah Indonesia akan mengalami dampaknya dalam bentuk yang berbeda-beda, dari krisis pangan di daerah agraris hingga penurunan tangkapan ikan di wilayah pesisir.
Survei Yale Program on Climate Change Communication (2025) menunjukkan 73% responden di Indonesia hanya mengetahui sedikit tentang perubahan iklim, sementara 93% mendukung program pengajaran perubahan iklim. Konsep itu memang kompleks dan perlu dibuat lebih mudah dipahami siswa yang berada di berbagai tahap perkembangan.
Di sinilah pendidikan memiliki peran penting untuk dapat menjadi jembatan bagi siswa dan komunitas dalam memahami dampak spesifik dari perubahan iklim di tempat sekolah berada. Guru dan kepala sekolah perlu menjadi penerjemah yang jeli untuk melihat dampak perubahan iklim terhadap komunitas mereka. Sekolah di wilayah agraris dapat menyelipkan materi ketahanan pangan, siklus cuaca adaptif, dan konservasi air melalui proyek kebun sekolah atau hidroponik. Sekolah di area pesisir dapat mengembangkan literasi kelautan, ekologi pesisir, dan konsep ekonomi biru.
Kondisi suhu yang meningkat juga memerlukan penyesuaian dengan bagaimana siswa belajar. Sekolah, misalnya, perlu menyesuaikan prosedur operasional standar (standard operating procedure/SOP) kegiatan luar ruang dan jam olahraga jika indeks panas melebihi batas aman. Selain itu, pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) bisa menambahkan materi kesehatan lingkungan, pertolongan pertama pada dehidrasi dan kelelahan panas, serta pemahaman indikator cuaca. Yang paling urgen untuk semua komunitas agar memiliki daya tahan ialah kemampuan untuk memetakan risiko bencana di lingkungan sekitar dan pendidikan mitigasi bencana agar mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri.
Namun, semua agenda itu menuntut integrasi kebijakan yang selama ini terpisah: anggaran pendidikan, kebencanaan, dan iklim berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan mandat audit keselamatan iklim, standar bangunan tahan iklim dalam DAK fisik pendidikan, dan dana siaga bencana di tingkat sekolah. Tanpa itu, rekomendasi pedagogis terbaik sekalipun akan berhenti sebagai wacana.
Menurut Thompson (2010), kita memiliki tiga pilihan dalam menghadapi perubahan iklim: mitigasi, adaptasi dan penderitaan. Penderitaan ialah sesuatu yang pasti, sedangkan mitigasi dan adaptasi memerlukan perubahan fundamental dari bagaimana manusia hidup. Untuk itu, pendidikan untuk menyelamatkan hidup dan penghidupan ialah pilihan yang mutlak.


















































