Gelombang tinggi.(Antara)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya kesadaran untuk merespons peringatan dini tsunami secara cepat demi meminimalkan risiko korban.
"Sebaik-baiknya peringatan dini adalah kesadaran masyarakat untuk merespons potensi tsunami," kata Kepala Pusat Standardisasi Instrumentasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (MKG) BMKG Rahmat Triyono dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (15/9).
Secara khusus, Rahmat menyampaikan bahwa masyarakat di wilayah pesisir perlu memiliki kesadaran untuk segera melakukan evakuasi ketika merasakan guncangan gempa kuat atau memperoleh peringatan terkait potensi tsunami.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pada gempa yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu, BMKG telah menerbitkan peringatan dini tsunami hanya 2 menit 16 detik setelah gempa utama mengguncang.
Saat itu, diketahui bahwa pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa dangkal tersebut, kata Rahmat, dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).
Kemudian, hasil pengamatan muka air laut BMKG melalui 16 stasiun tsunami gauge di NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat kenaikan gelombang tsunami di sejumlah titik. Gelombang tsunami tercatat setinggi 1,60 meter di Pota, 1,61 meter di Reo, 0,54 meter di Bulukumba, 0,40 meter di Selayar, dan 0,56 meter di Sape.
Selain itu, survei lapangan BMKG juga menemukan jejak tsunami di sepanjang pantai utara Flores dengan tinggi run-up tertinggi mencapai 2,68 meter di Desa Selama. Tsunami tersebut merusak 23 rumah, termasuk dua rumah yang tersapu tsunami di Desa Selama.
Meskipun demikian, tidak ada korban jiwa akibat tsunami karena masyarakat segera melakukan evakuasi setelah menerima peringatan dini tsunami. Sejalan dengan itu, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah rawan tsunami untuk tidak hanya mengandalkan informasi peringatan dini, tetapi juga memahami jalur evakuasi dan melakukan evakuasi mandiri ketika kondisi mengharuskan. (Ant/P-3)


















































