Ilustrasi(Dok Istimewa)
Musim kemarau panjang yang melanda berbagai wilayah berdampak pada penurunan signifikan ketinggian permukaan air di Bendungan Leuwikeris, yang terletak di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Saat ini, permukaan air dilaporkan telah surut hingga mencapai 7,5 meter.
Meski terjadi penurunan debit air yang cukup drastis, otoritas terkait memastikan bahwa kondisi tersebut masih dalam batas aman untuk menyuplai kebutuhan air baku bagi masyarakat melalui PDAM di Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, hingga Kabupaten Cilacap.
Kepala Satuan Pemeliharaan Bendungan Leuwikeris, Erwin Prilesmana, menjelaskan bahwa meskipun permukaan air turun 7,5 meter, elevasi bendungan masih berada pada level normal untuk operasional. Luas genangan yang mencapai 243 hektare memungkinkan bendungan tetap berfungsi meski di tengah musim kering.
"Untuk air baku dari Bendungan Leuwikeris masih tetap aman lantaran luas genangan mencapai 243 hektare meski sudah surut, tapi batas bawah atau muka air terendah sekitar 8 meter. Penurunan permukaan air mencapai 7,5 meter tersebut masih bisa mensuplai lahan pertanian, utamanya di wilayah Lakbok Utara Ciamis dan Banjar," ujar Erwin Prilesmana, Selasa (15/9/2026).
Erwin menambahkan bahwa penurunan ini tidak membuat seluruh genangan air menyusut habis. Dengan sisa permukaan air terendah sekitar 8 meter, distribusi air untuk kebutuhan domestik masyarakat melalui PDAM di wilayah Banjar, Ciamis, dan Cilacap tetap terjaga.
Selain air baku, sektor pertanian juga masih mendapatkan alokasi air. Lahan pertanian di wilayah Lakbok Utara yang mencakup Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar seluas 6.216 hektare dilaporkan masih terairi sesuai dengan Rencana Tahunan Operasi Waduk (RTOW).
Investasi Besar untuk Ketahanan Air
Bendungan Leuwikeris merupakan salah satu proyek strategis nasional yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Pembangunannya memakan waktu delapan tahun sejak dimulai pada 2016 dengan total anggaran mencapai Rp3,5 triliun. Angka ini tercatat sebagai nilai investasi terbesar dibandingkan 44 bendungan lain yang telah diresmikan pemerintah.
Secara teknis, bendungan ini memiliki kapasitas tampung hingga 81 juta meter kubik dengan manfaat air baku sebesar 845 liter per detik. Selain itu, bendungan ini dirancang untuk mengairi irigasi seluas 11.216 hektare, mereduksi banjir seluas 1.913 hektare, serta memiliki potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 20 megawatt.
Distribusi air baku sebesar 845 liter per detik tersebut dialokasikan untuk 13 kecamatan di tiga wilayah, yakni:
- Kota Banjar (400 liter/detik): Mengairi Kecamatan Purwaharja, Banjar, Situbatu, dan Langensari.
- Kabupaten Ciamis (100 liter/detik): Mengairi Kecamatan Lakbok, Purwadadi, dan Banjarsari.
- Kabupaten Cilacap (345 liter/detik): Mengairi Kecamatan Sidareja, Patimuan, Cipari, Bantarsari, Kedungreja, dan Gandrungmangu.
Dengan manajemen air yang sesuai dengan RTOW, diharapkan dampak kemarau panjang tahun ini tidak mengganggu stabilitas pasokan air bagi ribuan petani dan jutaan warga di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut.


















































