Perundungan Oma Grace Saat Live TikTok dan Minimnya Empati Digital

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lansia wanita pemilik akun TikTok @gkiyowoshop menjadi sorotan setelah videonya saat berjualan secara live viral di media sosial. Sosok yang akrab disapa Oma Grace itu dikenal menjual boneka dan berbagai kerajinan tangan melalui siaran langsung di TikTok.

Namun sayangnya, kegigihan Oma Grace untuk terus berjuang hidup dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi malah menjadi sasaran cyberbullying. la kerap mendapat komentar jahat seperti "m*ti lo" dan berbagai bentuk ejekan lainnya.

Meski begitu, Oma Grace tetap menunjukkan sikap sabar dan tidak terpancing emosi. Bahkan dalam sebuah video yang beredar, Oma merespons ejekan tersebut dengan doa yang baik untuk para pelaku.

"Buat kakak-kakak yang mengejek Oma atau mengatakan apapun, silakan ya Oma tidak akan marah. Cuma satu aja Oma akan doakan kamu, semoga pikiran kakak selalu diterangi, diberi kesehatan dan semua yang terbaik. Itu aja yang Oma doakan," kata Oma Grace dalam video tersebut.

Menanggapi fenomena yang dialami Oma Grace, pengamat media sosial Enda Nasution menilai kasus ini menunjukkan bahwa rendahnya empati digital di ruang media sosial. "Sedih ya melihat kasus Oma ini. Saya melihat ini menunjukkan bahwa problem kita di ruang digital bukan cuma literasi digital, tapi juga empati digital," kata Enda saat dihubungi Republika, Rabu (24/6/2026).

Menurut Enda, banyak orang lupa bahwa tidak semua pengguna internet memiliki titik awal yang sama dalam beradaptasi dengan teknologi. Bagi generasi muda, aktivitas seperti menggunakan TikTok, melakukan siaran langsung, berjualan online, hingga membuat konten merupakan hal yang sudah menjadi bagian dari keseharian.

Akan tetapi kondisi tersebut berbeda bagi banyak lansia yang baru mencoba beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Karenanya menurut dia, penting bagi anak muda untuk menghargai lansia yang berusaha melek digital.

"Bagi banyak lansia, digital itu adalah dunia yang sama sekali baru. Jadi ketika ada lansia seperti Oma Grace yang mencoba hadir di TikTok Live, mencoba berjualan, mencoba mengikuti zaman, menurut saya itu bukan sesuatu yang harus ditertawakan. Itu justru bentuk keberanian," ujar Enda.

la menjelaskan, media sosial sering kali menciptakan jarak antara pengguna dengan orang yang menjadi sasaran komentarnya. Akibatnya, komentar yang sebenarnya kasar menjadi lebih mudah dinormalisasi karena tidak ada konsekuensi langsung seperti saat berinteraksi secara tatap muka.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |