Pinjaman Digital makin Mudah, Utang Harus Terukur

4 weeks ago 35
Pinjaman Digital makin Mudah, Utang Harus Terukur Ilustrasi(Dok istimewa )

KEMUDAHAN memperoleh pinjaman melalui platform digital memberi masyarakat alternatif baru untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Namun, akses yang semakin praktis juga perlu diimbangi dengan kecermatan dalam menentukan kebutuhan, menghitung kemampuan membayar, dan menjaga kondisi arus kas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai outstanding fintech lending mencapai Rp105,14 triliun hingga Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan semakin besarnya peran layanan pendanaan digital dalam aktivitas keuangan masyarakat.

Di tengah pertumbuhan tersebut, kemampuan masyarakat mengambil keputusan finansial menjadi perhatian. Persoalannya bukan hanya mengenai seberapa besar dana yang tersedia untuk dipinjam, tetapi juga apakah jumlah tersebut memang diperlukan dan sanggup dikembalikan tanpa mengganggu keuangan sehari-hari.

Karena itu, prinsip responsible borrowing menjadi semakin penting. Kemudahan proses pengajuan pinjaman secara digital perlu dibarengi pemahaman mengenai kebutuhan dan konsekuensi dari kewajiban yang muncul. Salah satu pelaku industri yang mengusung pendekatan tersebut adalah Kredit Pintar melalui konsep Teman Atur Uang.

Gagasan ini menempatkan pengelolaan keuangan sebagai bagian dari keseluruhan proses pendanaan, sejak seseorang mempertimbangkan kebutuhan hingga menyelesaikan kewajibannya. Presiden Direktur Kredit Pintar Ronny Kasim mengatakan, akses pembiayaan seharusnya tidak berhenti pada penyediaan dana, tetapi juga membantu masyarakat menentukan keputusan yang sesuai dengan kondisi keuangannya.

"Memberikan akses pembiayaan adalah satu bagian dari peran kami. Namun, peran yang lebih besar adalah membantu masyarakat memahami kapan mereka membutuhkan pendanaan, menentukan jumlah yang sesuai dengan kemampuan, dan tetap memiliki kendali sampai kewajibannya terpenuhi. Inilah yang kami maksud dengan Kredit Pintar sebagai Teman Atur Uang," ujar Ronny dikutip pada Minggu (23/8). 

Pendekatan tersebut dijalankan melalui tiga prinsip yang menggambarkan perjalanan pengguna dalam mengelola pendanaan, yaitu Jaga Cash Flow, Pahami & Pilih, serta Tetap Terkontrol.

Prinsip Jaga Cash Flow menekankan pentingnya menyesuaikan jumlah pendanaan dengan kebutuhan sekaligus kemampuan keuangan. Sementara Pahami & Pilih mengarahkan pengguna untuk mencermati informasi dan konsekuensi sebelum menentukan produk pendanaan.

Adapun Tetap Terkontrol berfokus pada kemampuan pengguna menjaga pengelolaan kewajiban hingga seluruh pinjaman diselesaikan. Ketiganya menjadi bagian dari penerapan responsible lending, sehingga pertumbuhan industri tidak semata-mata diukur dari besarnya pembiayaan yang tersalurkan. Kualitas pertumbuhan juga berkaitan dengan ketepatan pemberian pendanaan serta kemampuan pengguna mempertahankan kendali atas keuangannya.

Pembahasan mengenai pengelolaan pinjaman secara bertanggung jawab turut mengemuka dalam Fintech Lending Days 2026 yang digelar Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) pada 20–21 Agustus 2026 di Denpasar, Bali. Dalam diskusi pada 21 Agustus, Head of Business and Operations Kredit Pintar Irgo Bachtiar menyampaikan bahwa perluasan akses pembiayaan tidak semestinya mengorbankan kualitas kredit.

"Memperluas akses pembiayaan tidak berarti menurunkan kualitas kredit. Kami justru memanfaatkan data dan teknologi untuk memahami kondisi serta kemampuan setiap customer dengan lebih baik, sehingga pendanaan dapat diberikan secara lebih tepat. Pada saat yang sama, responsible lending juga berarti memberikan responsible treatment, termasuk melalui pendekatan collection yang lebih relevan dan empatik," ujar Irgo.

Menurut dia, besarnya nilai penyaluran bukan satu-satunya indikator untuk melihat perkembangan bisnis. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perusahaan menjaga kualitas pembiayaan sekaligus membantu pengguna mengelola kewajibannya.

"Karena itu, responsible borrowing tidak berhenti pada keputusan saat seseorang mengambil pendanaan, tetapi mencakup seluruh perjalanan pengguna, mulai dari memahami kebutuhan dan kemampuan sebelum pendanaan hingga menyelesaikan kewajibannya," lanjutnya.

Dalam konteks tersebut, keterbukaan informasi menjadi bagian penting. Pengguna perlu memperoleh penjelasan yang mudah dipahami mengenai biaya, jangka waktu, besaran pembayaran, tanggal jatuh tempo, hingga total kewajiban yang harus dilunasi. Dengan informasi tersebut, masyarakat dapat mempertimbangkan konsekuensi pinjaman sebelum mengambil keputusan dan menyesuaikannya dengan kemampuan finansial masing-masing.

Fintech Lending Days 2026 menjadi forum yang mempertemukan pelaku industri, regulator, dan berbagai pihak dalam ekosistem pendanaan digital. Perkembangan bisnis menjadi salah satu topik yang dibahas, bersama dengan tanggung jawab industri dalam memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ronny menilai arah perkembangan pendanaan digital tidak cukup dilihat dari kemudahan masyarakat memperoleh pembiayaan.

"Masa depan pendanaan digital bukan hanya tentang seberapa mudah seseorang mendapatkan akses pembiayaan. Masa depan industri juga ditentukan oleh seberapa baik kita membantu masyarakat memahami keputusan finansialnya, meminjam sesuai kemampuan, dan tetap terkendali sampai kewajibannya terpenuhi. Ini adalah tanggung jawab yang perlu kita bangun bersama sebagai industri," ujar Ronny.

Melalui konsep Teman Atur Uang, pendekatan yang ditawarkan diarahkan agar masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap pembiayaan, tetapi juga mampu mengambil keputusan finansial dengan lebih terukur. Akses, pemahaman, dan kendali ditempatkan sebagai bagian yang saling berkaitan. Kredit Pintar sendiri mencatat telah mengumpulkan lebih dari 36 juta unduhan. Platform tersebut memiliki rating 4,3 di Google Play Store dan 4,4 di Apple App Store, dengan lebih dari dua juta ulasan pengguna di Indonesia.

Sepanjang 2025, penyaluran pinjaman yang dicatatkan mencapai lebih dari Rp9,5 triliun. Sementara sejak beroperasi pada 2017, akumulasi pinjaman yang telah disalurkan disebut telah menembus Rp66 triliun. (E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |