Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto (dua kanan) memberi keterangan dalam konferensi pers terkait perkembangan keamanan pascapenyampaian pendapat pada (27/8) di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (28/8/2026).( ANTARA/Ilham Kausar)
POLDA Metro Jaya membeberkan kronologi meninggalnya pedagang cermin yang meninggal dunia saat kericuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8) malam.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menjelaskan bahwa proses evakuasi terhadap korban tidak dapat dilakukan secara serta-merta di lokasi kejadian lantaran petugas harus memperhitungkan aspek keselamatan akibat kondisi kerusuhan yang masih berlangsung.
"Begitu lokasi sudah berhasil diamankan, Tim Biddokkes Polda Metro Jaya langsung mengevakuasi seorang laki-laki yang ditemukan dalam kondisi pingsan," terang Budi Hermanto dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (28/8).
Budi memaparkan, usai dievakuasi dari tempat kejadian perkara (TKP), korban langsung dibawa ke fasilitas medis terdekat, yakni Rumah Sakit Mintohardjo, untuk mendapatkan penanganan darurat. Namun, korban dinyatakan meninggal dunia saat menjalani perawatan medis.
Guna kepentingan identifikasi dan visum et repertum, jenazah korban kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Pihak kepolisian juga telah mendatangi keluarga almarhum, yakni anak kandung korban, untuk berkoordinasi secara langsung.
Meski tim penyidik telah mengajukan prosedur otopsi guna memastikan penyebab pasti kematian korban, pihak keluarga memutuskan untuk menolak tindakan medis tersebut.
"Pihak keluarga tidak bersedia dilakukan otopsi. Kami memahami dan berempati atas kondisi duka yang dialami keluarga, sehingga untuk sementara, penyidik belum meminta keterangan lebih lanjut," tutur Budi.
Kesaksian Istri Korban
Identitas korban diketahui bernama Bambang Setiyawan, 59, seorang pedagang cermin yang bermukim di Pejompongan, Jakarta Pusat. Istri almarhum, Sudarsi, 56, menuturkan bahwa sebelum peristiwa naas itu terjadi, dirinya masih menemani sang suami berjualan hingga pukul 16.30 WIB.
Biasanya, pasangan suami istri tersebut baru mengakhiri aktivitas dagang sekitar pukul 18.00 WIB. Namun, lantaran melihat kerumunan massa mulai memadati area Pejompongan, Sudarsi meminta suaminya untuk menutup tempat usaha lebih awal.
"Sebenarnya kita belum tutup. Tutupnya itu jam 18.00 WIB. Tapi karena saya lihat massa sudah banyak, akhirnya saya bilang sama Bapaknya, 'Itu massa sudah banyak, tutup'," kenang Sudarsi saat ditemui wartawan, Jumat (28/8/2026).
Usai menutup usahanya, Bambang diketahui sempat keluar rumah di tengah situasi kericuhan Kamis malam, hingga akhirnya pihak keluarga mendapati kabar almarhum telah berada di RS Polri Kramat Jati. (Ant/P-4)


















































