Tangkapan Layar: Siswa SD di Kabupaten Pandeglang, Banten setiap hari menerjang Sungai Cipunten Agung demi ke sekolah(Foto-Foto: Metro TV/Seprinal Sri Putra)
PULUHAN murid Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Pandeglang, Banten, harus mempertaruhkan keselamatan mereka setiap hari dengan menerjang Sungai Cipunten Agung sepanjang 26 meter di Kecamatan Labuan demi bisa pergi ke sekolah. Akses penyeberangan ini terpaksa ditempuh usai jembatan bambu yang biasa digunakan warga hancur diterjang arus deras beberapa tahun lalu.
Dengan penuh kehati-hatian dan didampingi orangtua yang cemas, anak-anak tersebut merintangi derasnya sungai. Sebelum melangkah ke dalam air, para siswa harus melepas sepatu dan kaus kaki agar tidak basah saat tiba di sekolah.

Salah satu orangtua siswa, Dianah, mengaku selalu mendampingi anaknya yang masih duduk di bangku SD untuk menyeberangi sungai. Rasa khawatir terus menyelimuti pikirannya setiap kali mengantar dan menjemput sang buah hati.
"Lewat sungai ini tiap hari. Waktu itu sempat ada (jembatan) dari bambu, tapi kebawa arus sungai. Sekarang enggak ada sama sekali," ujar Dianah di Labuan, Pandeglang, Senin (27/7).
Dianah mengungkapkan, sebenarnya terdapat alternatif jalan darat. Namun, rute tersebut memutar sejauh hampir tiga kilometer untuk bisa mencapai SDN Padahayu 2, Pandeglang.
"Khawatir iya, apalagi kalau musim hujan, arus besar, jadi engga bisa sekolah. Harapannya mau dibangun jembatan, biar anak-anak sekolahnya nyaman," harap dia.

Kondisi infrastruktur yang minim ini turut berdampak pada operasional sekolah. Kepala Sekolah SDN Padahayu 2, Tedi Rustandi, mengakui bahwa ketiadaan akses jembatan yang memadai berimbas pada menurunnya jumlah pendaftar murid baru di sekolah yang dipimpinnya.
"Dulu jumlah murid di sini banyak. Sempat ada jembatan dibangun swadaya masyarakat, tapi hanyut. Akhirnya sekarang memengaruhi jumlah murid di sini," kata Tedi.
Ia menambahkan, rasa takut para orang tua akan keselamatan anak-anak mereka membuat banyak keluarga memilih memindahkan atau mendaftarkan anaknya ke sekolah lain yang lokasinya lebih jauh namun lebih aman diakses. (Metro TV/Seprinal Sri Putra/P-4)


















































