Pratikno.(Antara)
MENTERI Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno menilai penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI di Semarang tidak hanya menjadi ajang keagamaan, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian daerah dan mempertemukan masyarakat dalam keberagaman.
Menurut Pratikno, besarnya skala penyelenggaraan MTQ menciptakan aktivitas ekonomi di berbagai sektor, mulai dari perhotelan, transportasi, perdagangan, UMKM, hingga jasa. Dampak tersebut muncul seiring mobilitas peserta dan tamu yang datang dari berbagai daerah.
"Event keagamaan seperti MTQ punya dampak yang luar biasa terhadap perekonomian masyarakat sekaligus keberagaman. Wali kotanya non-muslim, tapi justru menyelenggarakan acara yang besar hingga mendapatkan rekor MURI. Cari hotelnya sulitnya bukan main. Ini bukti kita diuji setiap saat, dan kita harus lulus dalam ujian toleransi serta keberagaman," kata Pratikno di Jakarta, Kamis (17/9).
MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang diikuti 2.242 peserta dari 37 provinsi. Selain perlombaan, kegiatan tersebut turut menghadirkan pameran dengan 150 stan yang menampilkan produk unggulan daerah, UMKM, kerajinan, kuliner, hingga berbagai inovasi dari daerah dan kementerian.
Kehadiran pameran tersebut memperluas keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan MTQ. Pelaku UMKM dan ekonomi kreatif mendapatkan kesempatan memperkenalkan produknya kepada peserta maupun tamu dari berbagai wilayah, sekaligus membuka peluang terbentuknya jaringan usaha dan pasar baru.
Penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI juga diproyeksikan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp1,2 triliun. Aktivitas ekonomi itu melibatkan sejumlah sektor, termasuk UMKM, pedagang, pekerja, transportasi, perhotelan, dan jasa selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Pratikno mengatakan besarnya dampak ekonomi tersebut perlu diarahkan agar manfaatnya tidak hanya dinikmati pelaku usaha besar. Masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan maupun destinasi wisata juga harus memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas ekonomi. "Kita harus membangun ekosistem bukan hanya industri pariwisata yang tumbuh, tapi masyarakat sekitar, objek pariwisata harus menikmati," ujarnya.
Ia menilai salah satu cara memperluas manfaat ekonomi ialah meningkatkan lama tinggal wisatawan atau length of stay. Dengan waktu kunjungan yang lebih panjang, pengeluaran wisatawan berpeluang lebih banyak berputar di tingkat lokal, termasuk melalui penggunaan akomodasi berbasis masyarakat seperti homestay.
Selain aspek ekonomi, Pratikno menilai MTQ di Semarang memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang untuk mempraktikkan toleransi dan keberagaman. Keterlibatan masyarakat dengan latar belakang yang berbeda dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang inklusif. "Ini bukti kita diuji setiap saat, dan kita harus lulus dalam ujian toleransi serta keberagaman," pungkasnya. (Fik/P-3)


















































