Donald Trump.(Al Jazeera)
PERANG melawan Iran diprediksi akan berakhir setelah pemilihan sela (mid-term elections) Kongres Amerika Serikat pada November mendatang. Pernyataan ini disampaikan oleh Donald Trump dalam kampanye pekan ini dan melihat situasi di lapangan, klaim tersebut memiliki dasar yang kuat.
Angkatan Laut AS saat ini tengah melakukan blokade total terhadap seluruh pelabuhan Iran. Langkah kejam ini memiliki satu tujuan sederhana: mencegah rezim Teheran mengekspor minyak sama sekali.
Pendapatan dari ekspor minyak melalui jalur laut, yang rata-rata mencapai 1,7 juta barel per hari tahun lalu, merupakan urat nadi utama bagi para pemimpin Iran. Tanpa aliran dana tersebut, rezim dikhawatirkan tidak akan mampu membayar pasukan keamanannya, yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan pemerintahan.
Strategi Blokade Total
Trump kini mengerahkan kekuatan penuh Angkatan Laut AS untuk mendorong Iran ke titik keputusasaan. Kebijakan ini melampaui sekadar sanksi ekonomi yang selama ini coba dihindari Iran dengan bantuan Tiongkok. Dengan menutup pelabuhan secara fisik, AS secara efektif menghentikan arus keluar minyak Iran.
Meski efektif secara strategis, kebijakan ini membawa konsekuensi kemanusiaan yang mengerikan bagi 90 juta penduduk Iran. Inilah alasan presiden-presiden AS sebelumnya enggan mengambil langkah ekstrem tersebut. Namun, dari sudut pandang taktis, rezim Iran diyakini tidak akan mampu bertahan menghadapi asfiksia ekonomi yang berkepanjangan.
Data Kpler: Stok Minyak Iran Menipis
Berdasarkan data dari perusahaan intelijen perdagangan global, Kpler, saat blokade diberlakukan pada 14 Juli, terdapat sekitar 90 juta barel minyak Iran yang sudah berada di laut lepas. Kapal-kapal tersebut sebagian besar menuju Tiongkok, sehingga pembayaran masih mengalir ke Teheran.
Namun, Kpler mencatat jumlah minyak Iran di laut kini menyusut drastis menjadi sekitar 29 juta barel. Jika blokade terus dipertahankan, angka ini diprediksi akan mencapai nol pada bulan depan. Artinya, penjualan minyak Iran akan habis sebelum pemilu 3 November. Cadangan finansial rezim diperkirakan akan mengering sepenuhnya pada Desember.
Analisis Dampak: Jika tekanan ini berhasil, Trump kemungkinan akan memaksakan kembalinya nota kesepahaman gencatan senjata dengan syarat yang jauh lebih berat, termasuk tuntutan ekspor 440 kg uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.
Eskalasi Militer di Teluk
Rezim Iran tidak tinggal diam menghadapi tekanan ini. Sabtu lalu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembakkan rudal ke kapal induk dan kapal perusak AS di Teluk. AS membalas dengan menenggelamkan tiga tanker Iran setelah membiarkan awak kapal menyelamatkan diri.
Ketegangan berlanjut pada Senin dan Selasa ketika Iran kembali menargetkan kapal perang AS, yang dibalas dengan penenggelaman lima tanker tambahan oleh Amerika. Iran juga meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer di Yordania tempat pasukan AS ditempatkan. Namun, eskalasi ini belum mampu mematahkan blokade minyak yang sedang berlangsung.
Situasi Selat Hormuz
Di sisi lain, negara-negara Teluk lain mulai mampu mengirimkan minyak mereka melalui Selat Hormuz berkat operasi angkatan laut AS yang dirancang untuk memulihkan kebebasan navigasi. Meskipun volume minyak yang melintas masih di bawah level pra-perang sebesar 20 juta barel per hari, data Lloyd’s List Intelligence mencatat rata-rata selusin kapal melintasi selat tersebut setiap hari antara 26 Agustus hingga 1 September.
Saat ini, Amerika Serikat berhasil membalikkan keadaan yang terjadi pada tahap awal perang, saat Iran sempat mampu mengirim minyaknya sendiri sambil menutup rute bagi negara lain. Kini, hasil akhir konflik akan sangat bergantung pada keteguhan Trump dalam mempertahankan blokade dan seberapa lama Iran mampu menahan tekanan ekonomi tersebut. (The Telegraph/I-2)


















































