Kehadiran Bambu Lab di Bandung membantu mengembangkan kreativitas anak.(MI/Naviandri)
DI tengah berkembangnya industri kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kehadiran teknologi printer 3D kian mendapat perhatian masyarakat.
Teknologi ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, tetapi juga mulai digunakan sebagai sarana edukasi dan pengembangan kreativitas anak.
Melihat potensi tersebut, perusahaan teknologi asal Tiongkok, Bambu Lab, membuka creative hub di Urban Republic Dago, Kota Bandung. Ruang kreatif itu ditujukan sebagai tempat masyarakat, pelajar, dan pelaku usaha mengenal sekaligus mencoba teknologi printer 3D.
Country Head PT Tek Lab Indonesia, distributor produk Bambu Lab, Jeffry Rianto Jumat (21/8) menyatakan Bandung dipilih karena memiliki ekosistem kreatif yang kuat serta antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap perkembangan teknologi dan kreativitas.
Kehadiran creative hub tersebut diharapkan dapat memperkenalkan berbagai pemanfaatan printer 3D kepada masyarakat, sehingga teknologi tersebut tidak hanya dipandang sebagai perangkat untuk kalangan profesional atau industri tertentu.
"Kami harap masyarakat tidak hanya membeli tapi juga melihat langsung, mencoba, berdiskusi, dan mendapatkan inspirasi untuk menciptakan sesuatu menggunakan printer 3D," tuturnya.
Jeffry menilai perkembangan teknologi printer 3D saat ini membuat perangkat tersebut semakin mudah digunakan oleh berbagai kalangan. Kreativitas pengguna pun tidak terbatas pada bidang tertentu.
KEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK
Selain untuk kebutuhan industri kreatif, printer 3D mulai dilirik orang tua sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas anak sekaligus mengalihkan perhatian mereka dari penggunaan gawai.
"Penggunaan printer 3D dapat memberikan aktivitas yang lebih produktif bagi anak. Di sisi lain, teknologi tersebut juga membuka peluang bagi pemula untuk mengembangkan usaha berbasis produk kreatif. Handphone itu kan kurang produktif (bagi anak-anak)," ungkapnya.
Jeffry menyebut, sejumlah pengguna pemula memanfaatkan printer 3D untuk membuat berbagai produk, seperti hiasan dan mainan, yang kemudian dapat dikembangkan menjadi produk UMKM.
Di creative hub tersebut, masyarakat juga dapat melihat secara langsung proses pencetakan berbagai prototipe menggunakan printer 3D. Beberapa produk yang telah dibuat antara lain miniatur kapal, mesin pesawat, hingga mainan bertema basket. Bambu Lab juga menyiapkan bahan baku berupa filamen berbahan dasar biji jagung yang diklaim lebih ramah lingkungan.
Untuk memudahkan pengguna, printer 3D Bambu Lab dapat dioperasikan melalui aplikasi. Pengguna dapat memilih desain yang telah tersedia atau membuat desain sendiri sesuai kebutuhan sebelum mencetaknya" jelasnya.
SIAPKAN PELATIHAN
Jeffry menambahkan, tidak hanya menyediakan ruang untuk mencoba produk, Bambu Lab berencana menggelar berbagai workshop dan pelatihan. Perusahaan juga menyiapkan kurikulum pembelajaran yang dapat digunakan bagi pelajar, khususnya siswa sekolah menengah kejuruan (SMK).
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkenalkan teknologi manufaktur digital sejak dini sekaligus mendorong lahirnya kreativitas dan keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan industri. Untuk masyarakat yang tertarik menggunakan teknologi tersebut, produk printer 3D Bambu Lab saat ini tersedia dalam beberapa tipe dengan harga sekitar Rp3 juta hingga Rp13 juta.
"Kehadiran creative hub di Bandung menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan teknologi printer 3D di luar kalangan profesional. Dengan akses untuk mencoba, belajar, dan berdiskusi secara langsung. Masyarakat diharapkan dapat melihat printer 3D bukan sekadar perangkat pencetak, melainkan alat untuk menghasilkan berbagai produk kreatif dan membuka peluang usaha baru," sambungnya. (E-2)


















































