Ilustrasi.(Magnific)
AMERIKA Serikat tengah memompa minyak mentah dalam jumlah rekor. Namun hal tersebut ternyata tidak mampu membendung kelangkaan bahan bakar yang mulai terasa di SPBU. Berdasarkan survei mingguan US Energy Information Administration (EIA), harga rata-rata nasional untuk diesel/solar baru saja menembus angka US$6,29 per galon, sementara bensin reguler berada di angka US$4,32.
Kesenjangan harga ini menjadi indikator penting bahwa krisis bahan bakar saat ini bukan sekadar masalah ketersediaan minyak mentah di dalam tanah. Masalah utamanya terletak pada keterbatasan kapasitas dunia untuk mengolah minyak mentah tersebut menjadi bahan bakar yang siap digunakan oleh truk, kapal tanker, maupun traktor.
Gangguan Jalur Distribusi Global
Pemicu krisis ini nyata dan terdokumentasi dengan baik. Serangan rudal dan drone oleh gerakan Houthi Yaman terhadap pangkalan udara Arab Saudi, termasuk serangan sebelumnya yang melumpuhkan pipa transmisi East-West Arab Saudi, mengubah peta pasar. Jalur pipa tersebut sebelumnya memungkinkan kapal tanker menghindari Selat Hormuz, titik sempit yang dilalui seperlima minyak dunia.
Vivek Dhar, pakar strategi komoditas dari Commonwealth Bank, menyatakan bahwa penutupan jalur alternatif ini secara material mengubah kondisi pasar minyak. Hal ini memaksa aliran melalui Hormuz meningkat drastis untuk menjaga tingkat inventaris tetap stabil. Saat ini, minyak mentah Brent diperdagangkan di atas US$107 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di atas US$103, keduanya melonjak tajam dibandingkan bulan lalu.
Masalah Utama: Crack Spreads
Mengapa harga diesel naik lebih cepat daripada bensin? Jawabannya ada pada crack spreads alias selisih antara harga yang dibayar kilang untuk minyak mentah dan harga jual bahan bakar jadi. Data EIA menunjukkan bahwa margin keuntungan untuk diesel dan bahan bakar jet jauh lebih tinggi dibandingkan bensin reguler.
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kilang di Rusia dan Timur Tengah yang berhenti beroperasi atau mengurangi skala produksi. Inventaris diesel di AS saat ini berada 14% di bawah rata-rata lima tahun terakhir, sementara impor bensin turun 32% sejak Maret. Kelangkaan yang dirasakan konsumen saat ini bukanlah kekurangan minyak mentah, melainkan produk olahan yang tidak sampai ke pasar.
Fakta Produksi AS: AS berada di jalur untuk memompa rekor 13,8 juta barel minyak mentah per hari tahun ini. Meskipun produksi domestik melimpah, harga di pompa bensin tetap ditentukan oleh pasar produk olahan global, bukan oleh jumlah minyak yang keluar dari Texas.
Dampak yang Tidak Merata
Beban ekonomi itu tidak jatuh secara merata. Karena hilangnya kapasitas kilang global terkonsentrasi pada diesel dan bahan bakar jet, sektor transportasi logistik dan pertanian terkena dampak yang jauh lebih besar dibandingkan kendaraan pribadi. Kenaikan harga bahan bakar ini berpotensi mengubah kendaraan operasional tertentu menjadi beban finansial yang berat bagi pemiliknya.
Para analis memperingatkan bahwa situasi ini masih bisa memburuk. Dalam skenario terburuk, cadangan minyak dan produk olahan global hanya tersisa untuk lima hingga 11 minggu. Harga Brent bahkan diprediksi bisa mendekati US$150 per barel sebelum terjadi penghancuran permintaan (demand destruction) yaitu pembeli mulai berhenti membeli karena harga yang tidak lagi terjangkau.
Pesan utamanya jelas: rekor produksi minyak mentah di Amerika Serikat bukanlah perisai bagi anggaran bahan bakar rumah tangga selama hambatan utamanya adalah kapasitas pengolahan (kilang). Saat pasokan minyak menjadi berita utama, pertanyaan krusialnya bukan lagi seberapa banyak minyak yang mengalir, melainkan seberapa banyak yang bisa diubah menjadi bahan bakar siap pakai. (The Auto Wire/I-2)


















































