Progres Mitigasi Konflik Gajah TNWK Capai 82 Persen, Akses Petani Jadi Prioritas

1 week ago 4
Progres Mitigasi Konflik Gajah TNWK Capai 82 Persen, Akses Petani Jadi Prioritas Penyelesaian pembangunan infrastruktur mitigasi konflik antara manusia dan gajah di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur,.(MI/HO)

PROYEK pembangunan infrastruktur mitigasi konflik antara manusia dan gajah di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terus menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga saat ini, proyek yang menelan anggaran sebesar Rp850 miliar tersebut telah mencapai progres fisik sebesar 82%.

Meski pembangunan berjalan masif, muncul aspirasi dari warga Desa Sukorahayu terkait akses menuju lahan pertanian mereka. Warga mengkhawatirkan keberadaan tanggul mitigasi akan memutus mobilitas alat dan mesin pertanian (alsintan) menuju sawah yang berada di sekitar bantaran sungai.

Kepala Desa Sukorahayu, Apria Sahdi, menyatakan bahwa pihak desa terus menjembatani komunikasi antara warga dan pelaksana proyek. Menurutnya, warga pada dasarnya mendukung pembangunan tersebut, asalkan aktivitas ekonomi mereka tidak terganggu.

"Win-win solution-nya sudah disampaikan, artinya dari pihak komite mungkin akan membuatkan pintu untuk akses alat-alat seperti handtraktor dan lain sebagainya untuk petani," ujar Apria.

Apria juga menjelaskan bahwa tanggul yang dibangun sebenarnya merupakan peninggian dari infrastruktur penahan banjir yang sudah ada sejak lama (eksisting).

Sebagai solusi tambahan, ia mengusulkan normalisasi sungai agar material lumpur yang diangkat dapat membentuk tanggul alami di sisi sungai tanpa harus membongkar bangunan yang sudah berdiri.

Tantangan Teknis dan Komitmen Perbaikan

Ketua Komisi Gabungan dan Mitigasi Interaksi Negatif Gajah Way Kambas, Brigjen Sriyanto, mengakui bahwa proyek ini masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah. Selain masalah akses, kondisi tanah yang labil di beberapa titik memerlukan penanganan khusus dan tahapan lanjutan.

"Memang tanggul ini ada beberapa wilayah yang tanahnya labil, jadi belum selesai memang. Ada tahapan lanjutan," kata Sriyanto. Ia menegaskan bahwa seluruh pembangunan tetap berpegang pada aturan hukum dan fungsi lingkungan agar tidak merusak ekosistem aliran sungai.

Terkait dampak pembangunan, Sriyanto juga memastikan bahwa kerusakan jalan desa akibat aktivitas kendaraan berat proyek akan diperbaiki sepenuhnya oleh pihak bertanggung jawab sesuai kesepakatan awal.

Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan

Di luar fungsi utamanya sebagai mitigasi konflik, proyek ini diklaim telah memberikan dampak ekonomi instan bagi masyarakat sekitar. Aktivitas ekonomi baru mulai tumbuh seiring dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap.

Indikator Proyek Data / Keterangan
Total Anggaran Rp850 Miliar
Progres Pembangunan 82 Persen
Tenaga Kerja Terdampak 1.091 Orang
Kendala Utama Pasokan besi, semen, dan tanah labil
Program Pemberdayaan Wisata, budidaya lebah, dan tanaman serai

Sriyanto mencatat sekitar 1.091 orang terlibat langsung dalam ekosistem proyek ini. Selain itu, sektor jasa seperti penginapan, rumah sewa, dan warung makan di sekitar lokasi proyek mengalami peningkatan pendapatan.

Pemerintah dan pihak komite kini fokus menyelesaikan sisa 18 persen pengerjaan dengan memastikan integrasi antara infrastruktur mitigasi gajah dan keberlangsungan hidup petani lokal tetap terjaga secara harmonis. (Z-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |