Talkshow Antipelecehan Perempuan dan Anak di Lingkungan Kereta Api digelar di Bandung sebagai langkah sosialisasi mencegah kejadian pelecehan.(MI/SUMARIYADI)
KERETA api harus menjadi ruang publik yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk pelecehan seksual. Untuk itu, masyarakat diimbau tidak takut melapor apabila mengalami atau menyaksikan tindakan pelecehan.
Sementara itu, pencegahan dan penanganan pelecehan merupakan tanggung jawab bersama antara operator, aparat penegak hukum, komunitas dan seluruh pengguna transportasi publik. Untuk itu, sangat penting terjalin kolaborasi antara PT Kereta Api Indonesia (KAI), kepolisian, akademisi, komunitas dan masyarakat dalam menciptakan transportasi publik yang aman.
Kesimpulan itu muncul dalam Talkshow Antipelecehan Terhadap Perempuan dan Anak di Lingkungan Kereta Api dengan tema : Ruang Publik Aman untuk Semua, Bersama Cegah Pelecehan Seksual.
Talkshow digelar PT KAI Daerah Operasi 2 Bandung dan Indonesia Railway Preservation Society (IRPS), di lingkungan Stasiun KA Bandung, Kamis (23/7).
Empat narasumber dihadirkan dalam talkshow itu, yakni Hendro Wahyono, Executive Vice Presiden KAI Daop 2 Bandung; Antik Bintari, Ketua Satgas
Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Universitas Padjadjaran; Iptu Cecep, Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak Polrestabes Bandung serta Tantra Madhyartha Pradhana dari IRPS Bandung.
Saat membuka kegiatan, pengurus IRPS Denny Surya Darma mengungkapkan sebagai komunitas pecinta kereta api, pihaknya sangat berharap kereta api bebas dari kasus tindakan pelecehan seksual.
"Talkshow ini digelar sebagai sosialisasi kepada masyarakat, sehingga masyarakat lebih melek terhadap isu pelecehan, berani bersuara dan menekan angka kejadiannya," tandasnya.
KASUS MENINGKAT
Pada kesempatan itu, Hendro mengakui adanya peningkatan kasus pelecehan di dalam kereta api. "Tahun lalu, dalam satu tahun, kami memproses 14 kasus. Tahun ini, baru setengah tahun, sudah ada 9 kejadian," paparnya.
PT KAI Daop 2 Bandung, lanjut dia, sangat berkomitmen mencegah dan menindaklanjuti setiap kasus pelecehan seksual di dalam kereta api maupun di lingkungan stasiun KA. Setiap kejadian yang dilaporkan akan ditindaklanjuti.
"Jika korban menginginkan kasusnya ditindaklanjuti secara hukum, kami akan melakukan pendampingan," tandasnya.
Sementara untuk pencegahan, PT KAI juga terus meningkatkan sarana dan prasarana. Salah satunya, yang terbaru, perusahaan telah memasang CCTV di setiap gerbong kereta.
Sebelumnya, PT KAI menyediakan hotline 121 yang tersedia 24 jam. Selain itu, di setiap gerbong juga dicantumkan nomor kontak yang bisa dihubungi masyarakat, jika ada kejadian pelecehan di dalam gerbong.
"Di stasiun, semua petugas PT KAI siap menerima laporan dari masyarakat, jika mengalami atau melihat kejadian pelecehan. Kami sangat berharap di lingkungan PT KAI menjadi ruang aman, sehingga tidak terjadi pelecehan seksual," tandas Hendro.
PENTINGNYA SOSIALISASI
Sementara itu, Antik Bintari menekankan pentingnya terus dilakukan sosialisasi terkait pelecehan seksual kepada masyarakat. Sosialisasi tidak boleh berhenti, dan siapa saja bisa melakukannya.
Tujuannya, lanjut dia, bersama-sama menciptakan zero tolerance terhadap tindakan pelecehan seksual.
"PT KAI menjadi contoh salah satu perusahaan transportasi yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi publik. Pemerintah harus memberikan pelayanan terbaik dan ruang aman bagi masyarakat," tegasnya.
Pada kesempatan itu, Iptu Cecep mengajak masyarakat untuk berani bicara, berani berteriak jika menjadi korban pelecehan seksual di ruang publik.
"Jumlah kasus pelecehan seksual yang dilaporkan ke polisi dari tahun ke tahun terus meningkat. Salah satu upaya menekan kasusnya ialah mengajak masyarakat berani bicara, berani melapor, jika menjadi korban pelecehan," tandasnya.
Ajakan kepada komunitas pecinta kereta api dilontarkan Tantra Madhyartha agar berperan serta mencegah kejadian pelecehan seksual. "Kita mulai dari yang kecil, dari diri kita," paparnya.


















































