REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Di bulan suci ramadhan ini, masyarakat muslim Palestina masih beribadah dalam keprihatinan. Umat muslim tak bisa memasuki apalagi di shalat di Masjid Al Aqsa yang dijaga ketat oleh pasukan Israel.
Hal tersebut, diungkapkan oleh Syekh Asal Palestina yang tinggal di Yordania, Syekh Omar Sale Muhammad Hamad, saat berkunjung ke Kantor Perwakilan Republika Jawa Barat (Jabar) di Kota Bandung, Selasa (3/3/2026).
"Ini, lebih mengerikan karena selama 100 tahun terakhir ini baru sekarang kami kaum muslimin tak boleh shalat di Al Aqsa. Sekarang, benar-benar dilarang kaum muslimin tak boleh shalat tarawih," ujar Syekh Omar yang didampingi oleh Tim dari Yayasan Aman Palestina.
Syekh Omar mengatakan bahwa sebelum ditutup total, masyarakat Muslim Palestina masih dapat memasuki Al Aqsa meskipun dengan penjagaan ketat dan pembatasan usia. Otoritas Israel saat itu hanya mengizinkan warga lanjut usia, yakni 60 tahun ke atas, untuk melaksanakan salat di Al Aqsa.
"Kalau umurnya kurang dari 60 tahun, bisa masuk tapi orangnya ditandai dan bisa masuknya hanya satu kali saja," katanya.
Dengan ada larangan umat Islam shalat di Masjid Al Aqsa, sekarang kawasan Al Aqsa, sepi dari kegiatan ibadah Ramadhan. "Tadinya, sebelum ditutup di Masjid Al Aqsa ada pembagian waktu untuk beribadah disana. Selain itu, ada wilayah yang diperbolehkan kaum muslimin masuk dan ada yang untuk kaum Yahudi, sekarang hanya mereka saja yang bisa ke Al Aqsa," katanya.
Terkait akses makanan selama bulan puasa, Syekh Omar menjelaskan bahwa masyarakat di wilayah Tepi Barat Palestina masih relatif lebih mudah mendapatkan makanan untuk berbuka dan sahur. Namun, kondisi berbeda terjadi di Al Aqsa, di mana tidak ada aktivitas buka puasa bersama maupun pembagian takjil. Padahal, setiap tahun biasanya selalu ada para dermawan yang membawa makanan untuk dibagikan kepada umat Muslim yang sedang berpuasa.
Palestina Butuh Rasa Aman
Syekh Omar mengatakan penjajahan di Palestina hingga saat ini masih terus berlangsung. Bahkan, Israel semakin leluasa mencaplok tanah-tanah milik Palestina dan mengusir pemiliknya.
"Hari ini, penjajajahan bukan hanya soal tanah tapi juga literasi. Pengetahuan, pemikiran, kami dibatasi bahkan kalau ada warga Palestina yang berusaha mengajarkan Alquran dan ilmu lainnya, Israel menganggapnya sebagai sebuah kriminal," kata dia.
Saat ditanya mengenai kebutuhan mendesak warga Palestina saat ini, Syekh Omar menegaskan bahwa yang paling dibutuhkan adalah rasa aman. Ia menyebut, masyarakat Palestina hidup tanpa jaminan keamanan, bahkan untuk belajar pun mereka berada di bawah tekanan.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dialami para tawanan Palestina di penjara Israel. Mereka tidak mendapatkan rasa aman, bahkan tidak diberi informasi mengenai waktu salat maupun puasa.
"Kami, masyarakat Palestina membutuhkan rasa aman agar bisa berkembang," katanya.
Penjajahan di wilayah tepi barat, kata dia, terus berlangsung. Bahkan, masyarakat yang keluar rumah untuk bekerja atau berkebun, ketika pulang rumahnya sudah direbut oleh orang-orang yang diperintah Israel.
"Rumah rakyat Palestina direbut dengan teror oleh penjajah. Bahkan di Gaza, bom-bom tetap dijatuhkan saat masa gencatan senjata," katanya.
Menurut Syekh Omar, ia berterima kasih dengan banyaknya dukungan dari masyarakat Indonesia. Setelah bersafari ke berbagai daerah di Indonesia, ia melihat ada rasa tenang, kasih sayang yang ikhlas yang diberikan masyarakat Indonesia terhadap Palestina.
"Kami berharap, ini bisa dijaga dan membantu perjuangan Palestina dari rumah kita, mulai belajar keutamaan-keutamaan Al Aqsa agar ada kekuatan islam. Memang, menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kita adalah mengajarakan soal Al Aqsa pada anak-anak kita," katanya.

2 hours ago
1
















































