Presiden Rusia Vladimir Putin.(Dok. Anadolu )
PRESIDEN Rusia Vladimir Putin menyerukan perluasan keanggotaan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) guna meningkatkan keterwakilan negara-negara dari kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam pidatonya di KTT BRICS Ke-18 yang berlangsung di New Delhi, India, Sabtu (12/9).
Putin menegaskan bahwa Rusia memberikan perhatian besar pada upaya mempertahankan serta memperkuat peran sentral PBB dalam urusan global. Ia mendorong negara-negara anggota BRICS untuk terus bersinergi dalam meningkatkan efektivitas organisasi internasional tersebut.
“Tentu saja, perluasan Dewan Keamanan PBB, khususnya dengan meningkatkan keterwakilan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin, akan berkontribusi pada tujuan tersebut,” ujar Putin sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Kremlin.
Reformasi Lembaga Ekonomi Global
Selain isu keamanan dan politik, Putin menyoroti urgensi perbaikan pada lembaga-lembaga ekonomi global. Menurutnya, terdapat kebutuhan mendesak untuk mereformasi Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Putin menilai lembaga-lembaga tersebut saat ini mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan realitas politik dan ekonomi dunia yang dinamis. Meski demikian, ia mengakui bahwa IMF, WTO, dan Bank Dunia tetap menjadi saluran dialog penting bagi perekonomian utama dunia, sehingga diperlukan koordinasi yang lebih kuat di antara anggota BRICS di dalam lembaga-lembaga tersebut.
Profil Kelompok BRICS
| Tahun Pembentukan | 2009 (KTT Pertama di Rusia) |
| Jumlah Anggota Saat Ini | 11 Negara |
| Daftar Anggota | Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Iran, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Indonesia. |
Tantangan Tatanan Dunia Multipolar
Dalam pandangannya mengenai tatanan dunia, Putin menyebut BRICS telah memantapkan diri sebagai pusat utama tata kelola global. Ia menekankan bahwa perkembangan politik internasional, keamanan, dan ekonomi kini semakin bergantung pada keputusan kolektif para anggota BRICS.
Namun, Putin memperingatkan bahwa pembentukan dunia multipolar menghadapi perlawanan dari pihak-pihak yang masih menggunakan pola pikir kolonial. Ia mengkritik pihak-pihak yang membagi dunia menjadi kelompok tertentu dan berusaha membendung pesaing baru melalui cara-cara non-diplomatik.
“Proses tersebut mendapat perlawanan dari mereka yang terbiasa berpikir dalam kerangka yang pada dasarnya kolonial, membagi dunia menjadi ‘taman yang makmur’ dan ‘hutan belantara’. Mereka berupaya dengan segala cara untuk membendung pesaing yang sedang bangkit melalui perang tarif, sanksi, hingga kekuatan brutal,” pungkasnya. (Anadolu/Ant/I-1)


















































