Lontaran massa koronal (CME) di matahari.(ESA/NASA/Soho)
SEBUAH ledakan Matahari yang memuntahkan awan partikel bermuatan ke arah Bumi berhasil dilacak oleh rekor 17 wahana antariksa yang tersebar di seluruh tata surya. Pengamatan simultan dari berbagai sudut pandang ini mengungkap struktur lontaran massa korona (coronal mass ejection atau CME) yang sangat tidak simetris dan belum pernah teridentifikasi sebelumnya.
CME merupakan erupsi raksasa di mana awan plasma bermagnet meluncur dari atmosfer luar Matahari yang panas. Partikel bermuatan ini dapat memicu fenomena aurora indah, tetapi juga menyimpan bahaya radiasi bagi astronaut, satelit antariksa, hingga jalur penerbangan komersial.
"Kami menggunakan pengamatan dari 17 wahana antariksa untuk melacak dan memetakan karakteristik CME ini," kata Adrienn Luspay-Kuti dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, yang memimpin studi tersebut, kepada Space.com. "Ini adalah rekor jumlah wahana antariksa terbanyak yang pernah digunakan untuk mengamati satu peristiwa CME tunggal, memberi kami gambaran yang sangat rinci tentang bagaimana CME berkembang."
Pengamatan tersebut mengonfirmasi ledakan Matahari kali ini memiliki dua lobus (bagian) yang asimetris. Salah satu lobus bergerak lebih cepat dibanding lobus lainnya. Lobus cepat ini meluncur langsung ke arah sektor Bumi dan Mars. Tanpa sebaran wahana antariksa yang luas, bagian penting ini kemungkinan besar tidak akan terdeteksi karena terhalang oleh lobus yang lebih besar tetapi bergerak lebih lambat di sudut lain.
"Pengamatan kami menunjukkan lobus cepat merambat melalui sektor Bumi–Mars, dan lobus yang jauh lebih lambat mengarah lebih jauh ke barat menuju STEREO-A," ujar Luspay-Kuti. STEREO-A merupakan salah satu instrumen pemantau cuaca antariksa milik NASA.
Awal letupan Matahari tersebut pertama kali ditangkap oleh observatorium SOHO milik NASA dan ESA. Namun, SOHO hanya mendeteksi lobus berkecepatan lambat yang menyembur menyamping. Lobus cepat yang mengarah langsung ke Bumi justru tak terlihat.
Pengukuran menunjukkan bahwa bagian CME yang meluncur ke Bumi bergerak dengan kecepatan rata-rata 840 kilometer per detik. Di sisi lain, lobus sekunder bergerak lebih lambat dengan kecepatan rata-rata 534 kilometer per detik. Kedua bagian tersebut sama-sama mengalami perlambatan akibat gesekan dengan angin Matahari.
Menariknya, wahana Solar Orbiter milik Eropa yang berada di posisi lintasan lintang Matahari tidak mendeteksi lintasan CME ini. Hasil "tidak terdeteksi" tersebut justru sangat krusial bagi para ilmuwan karena membantu memetakan batas bentuk dan dimensi gumpalan plasma tersebut secara akurat.
Temuan struktur ganda tak simetris ini mengejutkan komunitas astronomi. Hingga kini, mekanisme pasti yang menyebabkan ketidakseimbangan erupsi tersebut masih diteliti.
"Dalam konteks pengamatan sebelumnya, peristiwa ini berada di tingkat variabilitas CME paling ekstrem," tutur Luspay-Kuti. "Apakah CME yang sangat asimetris ini sebenarnya cukup sering terjadi tetapi gagal kita kenali karena kurangnya jangkauan pengamatan, ataukah fenomena ini memang benar-benar langka?"
Keberhasilan armada wahana antariksa mendeteksi bentuk dua dimensi dari badai Matahari ini menjadi langkah besar. Data ini sangat bernilai untuk meningkatkan akurasi sistem prakiraan cuaca antariksa serta mitigasi potensi gangguan radiasi pada teknologi Bumi di masa depan. (Space/Z-2)


















































