Suara palu dan deru mesin pembangunan kini menggantikan keheningan yang sempat menyelimuti SD Negeri Tanggirejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.(Dok. Istimewa)
Suara palu dan deru mesin pembangunan kini menggantikan keheningan yang sempat menyelimuti SD Negeri Tanggirejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sekolah yang sempat menjadi sorotan publik akibat insiden atap roboh ini tengah menjalani proses pemulihan intensif. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, hadir langsung untuk memastikan bahwa rehabilitasi bangunan berjalan sesuai rencana demi mengembalikan hak anak-anak atas ruang belajar yang aman.
Bagi pemerintah, pembangunan kembali SDN Tanggirejo bukan sekadar urusan memperbaiki tembok yang retak atau mengganti kayu atap yang lapuk. Ini adalah upaya memulihkan rasa aman yang sempat hilang. "Sekolah tidak boleh menjadi tempat yang membahayakan anak-anak. Pendidikan hanya dapat berlangsung dengan baik apabila rasa aman hadir lebih dahulu. Negara tidak boleh terlambat ketika keselamatan peserta didik dipertaruhkan," tegas Fajar Riza Ul Haq di sela kunjungannya.
Progres pembangunan fisik di SDN Tanggirejo telah mencapai sekitar 40 persen. Cakupan rehabilitasi dilakukan secara menyeluruh, meliputi:
- Perbaikan struktur atap sekolah.
- Rehabilitasi lantai dan plafon.
- Pemasangan pintu dan jendela baru.
- Pembangunan fasilitas sanitasi (toilet) yang layak.
- Penyediaan laboratorium komputer untuk menunjang literasi digital.
- Pembangunan musala, drainase, dan penataan lingkungan sekolah.
Menariknya, penanganan sekolah ini dilakukan melalui mekanisme percepatan. Mengingat tingkat kerusakan yang berat dan urgensi keselamatan, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus. Dukungan dialirkan melalui Bantuan Presiden (Banpres) via Kementerian Sekretariat Negara. Langkah lintas sektor ini diambil agar pembangunan dapat segera dimulai tanpa harus terjebak dalam prosedur birokrasi yang berlarut-larut.
Kepala SDN Tanggirejo, Juwariyah, mengungkapkan rasa leganya atas dimulainya pembangunan ini. Selama masa tunggu rehabilitasi, sebanyak 131 peserta didik harus menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan penuh keterbatasan. Mereka terpaksa menumpang di Gedung Madrasah Diniyah yang terletak tidak jauh dari lokasi sekolah asal.
Meskipun guru dan orang tua berupaya keras menjaga semangat belajar, risiko keamanan di gedung lama yang rusak tetap menjadi kekhawatiran utama. Kini, dengan adanya revitalisasi menyeluruh, sekolah tidak hanya akan berdiri kembali secara fisik, tetapi juga diproyeksikan menjadi ekosistem belajar yang lebih sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa langkah di SDN Tanggirejo bukanlah respons reaktif semata terhadap pemberitaan yang viral. Sekolah ini telah masuk dalam peta jalan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026. Program ini memiliki kriteria prioritas yang jelas, yaitu:
- Sekolah yang terdampak bencana alam.
- Sekolah yang berada di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
- Sekolah dengan tingkat kerusakan bangunan kategori berat.
"Revitalisasi sekolah bukan sekadar membangun kembali gedung yang rusak. Yang sedang kita bangun adalah kepercayaan masyarakat bahwa negara hadir menjaga hak setiap anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dalam lingkungan yang aman dan layak," tambah Wamen Fajar.
Percepatan ini membuktikan bahwa persoalan keselamatan anak di institusi pendidikan merupakan prioritas nasional yang memerlukan penanganan cepat dan taktis.















































