Riwayat Kanker Prostat pada Ayah Naikkan Risiko Anak.(Dok. MI)
RIWAYAT kanker prostat dalam keluarga, khususnya dari pihak ayah, menjadi salah satu faktor risiko utama yang meningkatkan kerentanan seorang pria terhadap penyakit serupa. Oleh karena itu, pemeriksaan dini sangat disarankan bagi pria yang memiliki riwayat genetik tersebut, terutama seiring dengan bertambahnya usia.
Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah, Andar R. Siregar, menjelaskan bahwa faktor keturunan ini memerlukan perhatian lebih dari para anak laki-laki. "Kalau bapaknya pernah kena kanker prostat, anaknya harus lebih waspada," ujar dr. Andar pada Kamis (17/9). Kendati demikian, adanya riwayat keluarga bukan berarti seseorang pasti akan menderita kanker, melainkan menjadi acuan penting untuk memulai skrining lebih awal.
Selain faktor genetik, usia di atas 50 tahun menjadi fase krusial karena risiko kanker prostat meningkat secara signifikan. Pada usia tersebut, kelenjar prostat umumnya cenderung mengalami pembesaran.
Namun, Andar meluruskan bahwa pembesaran tersebut tidak otomatis menandakan kanker, melainkan bisa dipicu oleh benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak, serta prostatitis.
Pria diminta untuk tetap waspada jika mulai mengalami sejumlah keluhan saluran kemih. Gejala yang umumnya muncul meliputi intensitas buang air kecil yang lebih sering, sering terbangun pada malam hari untuk berkemih, pancaran urine yang melemah, hingga kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih secara tuntas.
Di sisi lain, gaya hidup dan pola makan juga memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan prostat. Konsumsi daging merah secara berlebihan diketahui dapat meningkatkan risiko kanker prostat. Sebagai langkah pencegahan, Andar menyarankan peningkatan konsumsi sayuran, kacang kedelai, dan tomat yang kaya akan likopen.
"Jadi memang sudah ada publikasinya, likopen itu baik buat nurunin PSA," tambahnya.
Untuk mendeteksi penyakit ini, metode awal yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan Prostate-Specific Antigen (PSA) melalui tes darah. Jika hasil kadar PSA mencurigakan, dokter akan melanjutkan pemeriksaan dengan magnetic resonance imaging (MRI) sebelum menentukan kebutuhan tindakan biopsi.
Andar juga menegaskan bahwa anggapan biopsi dapat memicu penyebaran kanker adalah keliru. "Jadi itu mitos saja kalau habis biopsi malah buat nyebar," pungkasnya. (Z-10)


















































