Wahana pendarat bulan Blue Ghost milik Firefly Aerospace mengabadikan pemandangan matahari terbenam di bulan ini pada 16 Maret 2025. Tahap atas roket SpaceX Falcon 9 yang mengirim Blue Ghost ke bulan dijadwalkan akan menghantam permukaan bulan pada 5 Agust(Firefly Aerospace)
SEBUAH roket yang awalnya tidak dirancang untuk mengakhiri masa tugasnya secara dramatis kini berada dalam jalur hantaman menuju Bulan. Bagian atas (upper stage) dari roket Falcon 9 milik SpaceX diprediksi akan menabrak permukaan Bulan dan menciptakan kawah selebar kurang lebih 27 meter (89 kaki).
Badan roket berbobot 4.000 kilogram (8.800 pon) tersebut telah mengapung di orbit tinggi Bumi selama lebih dari 18 bulan. Roket ini meluncur pada Januari 2025 dengan membawa dua pendarat Bulan robotik swasta, yakni Blue Ghost milik Firefly Aerospace dan Resilience buatan perusahaan ispace asal Tokyo.
Meski bagian tahap pertama Falcon 9 dikenal dapat digunakan kembali, bagian tahap atasnya hanya terbang satu kali. Biasanya, SpaceX mengarahkan sisa roket kembali ke atmosfer Bumi untuk dihancurkan secara terkendali. Namun, langkah itu tidak dapat dilakukan pada peluncuran Blue Ghost-Resilience karena proses pengiriman wahana ke titik peluncuran yang jauh telah menghabiskan hampir seluruh bahan bakarnya.
Julianna Scheiman, Direktur Program Sains NASA dan Dragon di SpaceX, memberikan penjelasannya dalam konferensi pers terkait peluncuran astronot Crew-13.
"SpaceX melakukan manuver yang berbeda [daripada mengarahkannya kembali ke Bumi] untuk memastikan bahwa tahap kedua itu sendiri aman sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku," kata Scheiman.
Namun, manuver tersebut tidak menempatkan puing antariksa itu di lokasi yang stabil. Pengaruh gaya alamiah pada akhirnya mengubah jalur pergerakannya.
"Apa yang terjadi adalah, pada dasarnya, campuran dari aktivitas matahari dan gaya gravitasi telah menempatkannya di jalur menuju Bulan," jelas Scheiman.
Para astronom dan ilmuwan Bulan menyambut antusias peristiwa hantaman ini. Berdasarkan studi yang dipimpin oleh Benjamin Fernando dari Los Alamos National Laboratory di New Mexico, peristiwa tersebut memberi peluang bagi para peneliti untuk menguji sistem pengukuran dan memahami bahaya sampah antariksa bagi infrastruktur Bulan di masa depan.
Potensi bahaya dari sampah antariksa ini menjadi perhatian serius seiring rencana NASA melalui program Artemis untuk membangun pangkalan di dekat kutub selatan Bulan dalam dekade mendatang. Scheiman menyebutkan bahwa SpaceX tengah mempelajari cara meminimalkan risiko jatuhnya sisa roket di area Bulan yang dihuni manusia.
"Ini adalah salah satu hal yang sedang kami kerjakan dalam kemitraan dengan NASA dan lembaga terkait lainnya," ujar Scheiman.
"Apa jalur pembuangan masa depan terbaik untuk misi berenergi tinggi yang berada di sistem Matahari-Bumi-Bulan?" tambahnya.
Insiden ini bukanlah yang pertama kali terjadi dalam sejarah eksplorasi antariksa. Bagian tahap ketiga roket Saturn V milik NASA pernah menghantam permukaan Bulan pada beberapa misi Apollo. Selain itu, pada 4 Maret 2022, bagian atas roket Long March 3C asal Tiongkok juga pernah menabrak Bulan dan meninggalkan kawah ganda yang unik. (Space/Z-2)
















































