Ruas Perempuan: 27 Agustus Jangan Jadi Gerakan Destruktif untuk Bangsa

4 weeks ago 6
 27 Agustus Jangan Jadi Gerakan Destruktif untuk Bangsa Founder Ruang Suara Perempuan Indonesia Imayati Kalean.(dok.istimewa)

MOMENTUM perayaan hari kemerdekaan hendaknya menjadi bagian dari refleksi sekaligus perayaan atas perjalanan panjang bangsa Indonesia yang telah mencapai 81 tahun kemerdekaan. Kritik terhadap pemerintah dan berbagai persoalan bangsa tetap penting dalam negara demokrasi. Namun, kritik perlu diarahkan menjadi energi perubahan yang konstruktif, bukan berkembang menjadi gerakan destruktif dan kontraproduktif bagi pembangunan.

Pesan tersebut disampaikan Imayati Kalean, Founder Ruang Suara Perempuan Indonesia (Ruasperempuan.idn), dalam agenda Indonesia Layak Dirayakan yang diselenggarakan Ruang Suara Perempuan Indonesia berkolaborasi dengan Kohati PB HMI pada 24 Agustus 2026 di Jakarta.

Menurut Imayati, Indonesia memang masih menghadapi berbagai persoalan dan belum menjadi negara yang sempurna. Namun, perjalanan selama 81 tahun bukanlah waktu yang singkat. Berbagai tantangan telah dilalui, sementara beragam pencapaian telah diraih dalam mempertahankan keberlangsungan negara dan membangun kehidupan masyarakat.

“Indonesia belum sempurna. Masih banyak yang harus kita kritik dan perbaiki. Tetapi perjuangan dan pencapaian Indonesia selama 81 tahun juga layak untuk dirayakan. Merayakan Indonesia bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, melainkan memberikan penghargaan terhadap perjalanan bangsa sekaligus membangun optimisme untuk masa depan,” ujar Imayati dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (25/8).

Imayati menilai aksi dan ekspresi masyarakat pada 27 Agustus 2026 merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang perlu dihormati. Namun, penyampaian aspirasi seharusnya tetap dilakukan secara bertanggung jawab dan tidak diarahkan pada tindakan yang dapat menimbulkan kerusakan, memperbesar konflik sosial, atau menghambat proses pembangunan.

Menurutnya, momentum tersebut akan jauh lebih bermakna apabila tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan ketidakpuasan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengapresiasi perjuangan bangsa Indonesia selama 81 tahun.

“27 Agustus seharusnya menjadi gelombang perayaan kemerdekaan Indonesia, bukan gelombang destruktif bagi pembangunan bangsa. Kita boleh berbeda pandangan, boleh kritis, bahkan harus berani mengoreksi kebijakan yang tidak tepat. Tetapi jangan sampai kritik berubah menjadi provokasi yang justru merugikan masyarakat dan pembangunan yang sedang kita perjuangkan bersama,” tegasnya.

Menurut Imayati, kecintaan terhadap Indonesia tidak berarti harus selalu menyetujui pemerintah. Sebaliknya, kecintaan terhadap bangsa dapat diwujudkan melalui keberanian memberikan kritik yang rasional, menawarkan solusi, serta memastikan setiap gerakan sosial tetap memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Agenda Indonesia Layak Dirayakan juga menjadi ruang untuk menegaskan pentingnya peningkatan peran perempuan dalam pembangunan nasional. Perempuan tidak boleh hanya menjadi penonton dalam berbagai perubahan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi. Perempuan harus hadir sebagai aktor pembangunan, pengambil keputusan, penghasil gagasan, sekaligus kekuatan kritis yang mampu membaca persoalan bangsa secara objektif.

Terlebih di era digital, perempuan menghadapi tantangan baru berupa derasnya arus informasi, disinformasi, manipulasi opini, polarisasi, serta berbagai bentuk provokasi yang dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial. Karena itu, perempuan dituntut memiliki kemampuan literasi digital dan daya kritis yang semakin kuat.

“Perempuan di era digital harus lebih kritis. Jangan hanya menjadi konsumen informasi, tetapi harus mampu membaca informasi, memverifikasi kebenaran, memahami konteks, dan ikut membentuk ruang publik yang sehat. Perempuan harus menjadi bagian dari solusi, bukan ikut terseret dalam arus provokasi,” jelas Imayati.

Ia menambahkan, peningkatan peran perempuan dalam pembangunan bukan sekadar persoalan representasi, tetapi juga tentang bagaimana perempuan dapat memberikan kontribusi nyata melalui pengetahuan, kepemimpinan, kreativitas, dan keberanian menyampaikan gagasan.

Melalui agenda ini, Ruang Suara Perempuan Indonesia mendorong cara pandang yang lebih konstruktif terhadap Indonesia. Merayakan Indonesia tidak berarti menganggap Indonesia sudah sempurna. Sebaliknya, mengkritik Indonesia juga tidak berarti meniadakan seluruh perjuangan dan pencapaian yang telah dilakukan bangsa. Keduanya dapat berjalan beriringan.

Indonesia dapat dirayakan atas perjuangan dan pencapaiannya selama 81 tahun, sekaligus terus dikritisi atas berbagai persoalan yang masih harus diselesaikan. Karena itu, kata Imayati, momentum 27 Agustus 2026 diharapkan tidak berhenti pada ekspresi protes, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran kebangsaan bahwa setiap warga negara memiliki tanggung jawab terhadap masa depan Indonesia.

“Indonesia belum sempurna, tetapi Indonesia telah bertahan dan terus tumbuh selama 81 tahun. Perjuangan itu layak dihargai. Pencapaian itu layak dirayakan. Sementara kekurangan yang masih ada harus menjadi alasan untuk terus membangun, bukan alasan untuk merusak,” pungkasnya. (Cah/P-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |