Rukki Usul Kenaikan Cukai Rokok Elektronik untuk Tekan Kecanduan Nikotin

6 days ago 3
Rukki Usul Kenaikan Cukai Rokok Elektronik untuk Tekan Kecanduan Nikotin ilustrasi(Antara)

Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (Rukki) secara resmi mengusulkan kepada pemerintah untuk menaikkan tarif cukai rokok elektronik. Langkah ini dinilai mendesak sebagai upaya strategis dalam mengatasi persoalan kecanduan nikotin yang kian mengkhawatirkan di tanah air.

Ketua Rukki, Mouhamad Bigwanto, mengungkapkan bahwa harga rokok elektronik yang saat ini relatif terjangkau menjadi hambatan besar bagi efektivitas program pemerintah dalam menekan angka prevalensi merokok. Menurutnya, harga yang murah berpotensi memicu konsumen melakukan down trading atau beralih ke produk yang lebih ekonomis alih-alih berhenti mengonsumsi nikotin.

"Kita berharap pemerintah harus menaikkan cukai untuk rokok elektronik karena kalau ini terlampau murah, upaya untuk membuat orang berhenti dari kecanduan nikotin itu akan gagal," ujar Bigwanto dalam diskusi bersama media di Jakarta, Senin (14/9).

Bahaya Disparitas Harga dan Fenomena Down Trading

Bigwanto menekankan pentingnya kebijakan cukai yang memperhatikan disparitas harga antar-lapisan produk tembakau. Tanpa pengaturan harga yang ketat, konsumen yang ingin berhenti merokok konvensional justru hanya akan berpindah ke rokok elektronik karena faktor biaya.

Berdasarkan studi komparasi yang dilakukan Rukki terhadap rokok elektronik, rokok konvensional, dan produk nikotin oral, ditemukan fakta mengejutkan mengenai konsentrasi nikotin. Rukki  menyetarakan penggunaan produk berdasarkan kandungan nikotinnya untuk mendapatkan perbandingan yang adil.

"Ditemukan bahwa satu mililiter cairan rokok elektronik itu kita samakan dengan 13 batang rokok konvensional," jelas Bigwanto. Ia menambahkan bahwa perbandingan harga ini difokuskan pada cairan (liquid) rokok elektronik, mengingat cukai dikenakan pada cairan tersebut, bukan pada perangkatnya.

Ancaman bagi Pelajar dan Anak-anak

Selain masalah kecanduan pada orang dewasa, Rukki menyoroti tren penggunaan rokok elektronik di kalangan anak-anak dan pelajar. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektronik di lingkungan sekolah kini lebih dominan dibandingkan rokok konvensional.

Keterjangkauan harga disinyalir menjadi pintu masuk utama bagi anak-anak untuk mengakses produk tersebut. Bahkan, ditemukan kasus di mana pelajar turut menjadi penjual rokok elektronik di sekolah mereka sendiri.

"Temuan itu banyak sekali anak yang jualan di sekolah. Memang produk ini terjangkau buat anak-anak," ungkapnya.

Sebagai penutup, Rukki mendesak pemerintah untuk segera memperkuat kebijakan cukai rokok elektronik. Penguatan regulasi ini diharapkan dapat memastikan harga produk tidak terlalu murah, sehingga tidak lagi menjadi alternatif bagi konsumen yang seharusnya didorong untuk benar-benar lepas dari ketergantungan nikotin. (Ant/E-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |