Rumah dan Tempat Kerja Runtuh, Bidan Endang Tetap Rawat Korban Gempa

1 month ago 7
Rumah dan Tempat Kerja Runtuh, Bidan Endang Tetap Rawat Korban Gempa Bidan Endang bersama korban gempa.(Dok Pribadi)

GEMPA bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, (15/8) menyisakan rumah-rumah yang runtuh, fasilitas umum yang rusak, serta warga yang kehilangan tempat tinggal.

Di Desa Bea Waek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, salah satu bangunan yang hancur adalah Pustu Bea Waek.

Bangunan yang selama ini menjadi tempat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan itu kini tinggal puing. Tempat tersebut juga merupakan rumah bagi salah seorang bidan desa, Maria Avila Goredy, yang akrab disapa Endang.

Saat gempa terjadi, Endang berada di dalam bangunan tersebut. Reruntuhan batu bata dan kayu menimpa tubuhnya.

Bahunya lebam. Pinggangnya memar. Lututnya terluka. Namun setelah selamat dari reruntuhan, Endang kembali berada di tengah warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Pustu Bea Waek rusak total. Rumah yang rusak berat maupun ringan kurang lebih ada 81 rumah. Kalau pemerintah sampai dengan hari ini belum ada bantuan sama sekali,” tutur Endang kepada media ini melalui sambungan telepon, Rabu (18/8).

Di tengah kondisi tersebut, warga membuat tenda darurat secara mandiri. Sedikitnya 17 tenda didirikan untuk warga yang tidak lagi merasa aman berada di dalam rumah.

Sebagian warga memilih tidur di halaman. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan membuat tenda di depan teras. Sementara pelayanan kesehatan dipindahkan ke sebuah posko sederhana.

Pustu Bea Waek hanya memiliki tiga bidan dan satu perawat. Tidak ada dokter yang bertugas di fasilitas kesehatan tersebut.

Setelah bangunan utama hancur, para tenaga kesehatan tetap menjalankan pelayanan dari bawah tenda yang dibuat menggunakan kayu dan terpal.

“Setiap hari kami stay di posko tenda darurat yang dibuatkan dari kayu dan beratapkan terpal. Pustu tersebut hanya tinggal puing-puing saja,” kata Endang.

Bagi Endang, keputusan untuk kembali bekerja datang di tengah kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih.

Ia masih mengalami trauma setelah tertimpa reruntuhan. Namun pelayanan kepada warga tetap berjalan.

“Tetapi karena besarnya cinta saya sebagai petugas medis, yaitu bidan, untuk melayani masyarakat, saya tetap kerja total, walaupun saya masih mengalami trauma berat akibat gempa tersebut dan ditindis batu bata bangunan dan kayu,” ujarnya.

Di posko darurat itu, warga tetap datang untuk mendapatkan pertolongan. Ibu, lansia, dan anak-anak menjadi bagian dari masyarakat yang harus tetap mendapatkan pelayanan. Di sisi lain, kebutuhan warga juga belum sepenuhnya terpenuhi.

Endang mengatakan hingga Rabu (18/8), bantuan pangan dari dinas terkait belum diterima warga terdampak di Desa Bea Waek.

“Kalau pemerintah kabupaten tidak bisa, kami berharap pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, tolong bantu kami,” pintanya.

Laptop, komputer, printer, dokumen penting, ijazah, dompet, dan KTP berada di dalam bangunan yang runtuh.

“Saya punya barang-barang berharga sampai sekarang masih tertimbun bangunan. Saya punya laptop, komputer, printer, semua data-data, ijazah, dompet, KTP. Pokoknya nyawa di situ,” ucapnya.

Bagi Endang, Pustu Bea Waek memiliki arti lebih dari sekadar tempat bekerja. Bangunan itu telah menjadi rumah sekaligus tempat ia menjalankan pengabdian sebagai bidan desa.

“Pustu bukan hanya tempat kami kerja, tetapi itu rumah kami. Tempat kami curhat. Tapi sekarang semuanya tinggal cerita. Sebelum kejadian kami sempat bagi PMT,” tuturnya.

Di tengah puing-puing itu, satu hal tetap berjalan: pelayanan kepada masyarakat. Obat-obatan telah diturunkan dari Puskesmas Mano. Namun kebutuhan warga terdampak masih terus bertambah seiring kondisi pascagempa.

Berdasarkan pendataan dan verifikasi faktual hingga Selasa, (18/8) pukul 18.55 Wita, korban gempa di Kabupaten Manggarai Timur tercatat sebanyak 449 orang. Sebanyak 25 orang meninggal dunia, 242 orang mengalami luka ringan, dan 182 orang mengalami luka berat.

Sementara data keseluruhan korban gempa yang dihimpun hingga waktu tersebut mencapai 608 orang, dengan 70 orang meninggal dunia, 230 orang mengalami luka berat, dan 308 orang mengalami luka ringan.

Angka-angka tersebut tersebar di sejumlah wilayah terdampak di Pulau Flores.

Di balik data itu terdapat warga yang kehilangan rumah, anggota keluarga, harta benda, dan tempat untuk kembali.

Di Bea Waek, kehilangan juga dirasakan para tenaga kesehatan.

Endang menjadi salah satu tenaga kesehatan yang harus menjalankan tugas setelah dirinya sendiri menjadi korban gempa.

Tubuhnya masih menyimpan luka. Trauma masih dirasakan. Tempat tinggal dan tempat kerjanya telah berubah menjadi puing.

Namun setiap hari ia kembali ke posko darurat. Di bawah terpal, pelayanan kesehatan tetap dibuka.

“Bukan bangunannya, Tuhan, tapi cerita di dalamnya. Dan terima kasih untuk berkat Tuhan saya selamat dari tragedi gempa tersebut,” katanya.

Pustu Bea Waek memang telah runtuh. Tetapi pelayanan kesehatan belum berhenti. Endang bersama tiga bidan dan seorang perawat tetap berada di tengah warga.(MM/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |