REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi di Kampung Muara, Distrik Pogoma, semestinya berjalan seperti hari-hari lain, tenang dan bersahaja di antara lekuk pegunungan Papua Tengah.
Namun api tiba-tiba menyala, melahap rumah-rumah warga, memecah keheningan yang selama ini dijaga alam. Asap mengepul, menyisakan bau hangus yang menyesak, sementara langkah-langkah tergesa warga yang mengungsi menjadi tanda bahwa rasa aman bisa runtuh dalam sekejap.
Kepanikan itu tidak datang tanpa sebab. Di tengah kekacauan, bayang-bayang ancaman bergerak di sekitar kampung, terlihat dari pantauan udara. Sebuah pesawat nirawak milik TNI menangkap jejak orang-orang tak dikenal, membawa senjata api, beredar di sekitar lokasi. Dari langit, ancaman itu tampak nyata, dingin, dan tak bisa lagi diabaikan.
Di darat, aparat bergerak cepat. Tim patroli Koops TNI Habema menyisir area kampung hingga ke sekitar muara, memastikan situasi tidak semakin memburuk. Langkah mereka tegas, namun tetap terukur, menjaga agar ketegangan tidak berubah menjadi kekacauan yang lebih luas.
Sementara itu, warga memilih menjauh dari rumah yang telah menjadi abu. Sebagian membawa apa yang sempat diselamatkan, sebagian lainnya hanya membawa diri dan rasa cemas yang belum sempat reda. Di tempat pengungsian sementara, wajah-wajah itu menyimpan cerita yang sama, kehilangan yang tiba-tiba dan ketidakpastian yang belum menemukan ujungnya.
Di tengah situasi tersebut, kehadiran aparat bukan sekadar soal keamanan, tetapi juga menjadi penanda bahwa negara hadir di saat-saat genting. Personel TNI tidak hanya melakukan pengejaran terhadap pelaku, tetapi juga membantu warga yang terdampak, mendata kerusakan, serta memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
Namun, peristiwa ini sekali lagi mengingatkan bahwa Papua bukan hanya tentang bentang alam yang indah, tetapi juga tentang dinamika yang kompleks. Di satu sisi, ada kehidupan masyarakat yang berjalan sederhana. Di sisi lain, ada bayang-bayang konflik yang sewaktu-waktu muncul, mengganggu ritme yang telah lama terbangun.
Aksi pembakaran rumah warga, yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata, menjadi bagian dari rangkaian panjang ketegangan di wilayah tersebut. Setiap insiden tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan persoalan yang lebih besar, mulai dari keamanan, kepercayaan, hingga relasi antara negara dan masyarakat lokal.
sumber : Antara

10 hours ago
4

















































