Senat AS Setujui RUU Sanksi Rusia, Targetkan Ekonomi Perang Putin

3 days ago 12
Senat AS Setujui RUU Sanksi Rusia, Targetkan Ekonomi Perang Putin Vladimir Putin.(Euronews)

SENAT Amerika Serikat pada Jumat (7/8) secara telak menyetujui rancangan undang-undang (RUU) untuk memperketat sanksi terhadap ekonomi perang Rusia. Langkah ini menjadi kemenangan penting bagi para pendukung Ukraina di Kongres setelah melalui negosiasi panjang selama lebih dari satu setengah tahun.

Pemungutan suara dengan hasil 86-11 tersebut mengakhiri perdebatan sengit yang sempat membuat sejumlah anggota parlemen meragukan prospek keberhasilan regulasi ini. RUU tersebut kini diajukan ke DPR AS (House of Representatives), meskipun para anggota dewan di sana telah meninggalkan Washington untuk reses Agustus.

Warisan Terakhir Lindsey Graham

Anggota dari kedua partai besar di AS memuji kegigihan mendiang Senator Lindsey Graham (Republik-South Carolina) yang memperjuangkan kebijakan ini hingga saat-saat terakhir hidupnya. Graham meninggal dunia akibat kondisi jantung pada Juli lalu, tak lama setelah kembali dari kunjungannya ke Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang menghadiri pemakaman Graham pekan lalu, secara pribadi mendesak para anggota parlemen untuk mendukung legislasi ini. Zelensky bahkan menyaksikan langsung pemungutan suara awal untuk memajukan RUU tersebut dari ruang sidang Senat.

Tarif 100 Persen dan Sanksi Iran

RUU ini memberikan wewenang kepada pemerintahan Trump untuk memberlakukan tarif hingga 100 persen terhadap lima pembeli utama minyak dan gas Rusia, serta negara-negara lain yang membantu menghindari sanksi energi yang sudah ada. Selain itu, regulasi ini memperpanjang sanksi terhadap Iran, yang menjadi prioritas Gedung Putih.

Senator James E. Risch (Republik-Idaho), Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menegaskan bahwa undang-undang ini bertujuan untuk memutus aliran uang tunai yang menggerakkan mesin perang Putin.

Senator Richard Blumenthal (Demokrat-Connecticut), yang memimpin upaya ini bersama Graham, menyebut sanksi baru ini sebagai yang paling konsekuensial sejak invasi skala penuh Rusia pada 2022. Para pendukung berpendapat bahwa hukuman finansial ini, ditambah dengan keberhasilan Ukraina menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia, dapat mendorong Presiden Vladimir Putin untuk mencari penyelesaian negosiasi.

Perdebatan mengenai Wewenang Tarif

Meski mendapat dukungan luas di Senat, RUU ini menghadapi tantangan di DPR. Beberapa anggota Demokrat, termasuk Gregory Meeks, menyatakan keberatan karena menganggap RUU ini memberikan terlalu banyak wewenang kepada Presiden Donald Trump untuk mengenakan tarif baru secara sepihak. Meeks menyebutnya sebagai kuda Troya untuk pungutan ekonomi yang berpotensi disalahgunakan.

Di sisi lain, Senator Rand Paul (Republik-Kentucky) dan Ron Wyden (Demokrat-Oregon) sempat mengajukan amendemen untuk menghapus klausul tarif, dengan argumen bahwa hal itu bisa menjadi kenaikan pajak terbesar yang membebani keluarga Amerika. Namun, amendemen tersebut berhasil dikalahkan di lantai Senat.

Untuk meredakan kekhawatiran, Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer memberikan komitmen tertulis bahwa pemerintah tidak akan mengenakan tarif di luar lima importir utama minyak atau gas alam Rusia, sesuai dengan batasan dalam undang-undang tersebut.

Gedung Putih menyatakan dukungan tertulis terhadap RUU ini. Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menekankan bahwa langkah ini mengirimkan pesan yang tidak salah lagi ke Moskow bahwa Amerika akan mendukung Ukraina sepenuhnya. (The Washington Post/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |