Sestama BNPB Turut Bedah Buku Wartawan Media Indonesia tentang Sejarah Gempa 1926

5 hours ago 6
Sestama BNPB Turut Bedah Buku Wartawan Media Indonesia tentang Sejarah Gempa 1926 Bedah buku Gempa Tujuh Hari: Sejarah Gempa 1926 di Dataran Tinggi Padang, Mengingat untuk Bertahan karya wartawan Media Indonesia, Yose Hendra, Rabu (22/7/2026).(MI/Yose Hendra )

SEKRETARIS Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian menghadiri sekaligus membedah buku Gempa Tujuh Hari: Sejarah Gempa 1926 di Dataran Tinggi Padang, Mengingat untuk Bertahan karya wartawan Media Indonesia, Yose Hendra, dalam Lecture and Learning Session Series #46 bertajuk "Seabad Gempa Padang Panjang: Menguatkan Kesiapsiagaan Masa Kini" yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas melalui Program Studi S-2 Magister Manajemen Bencana, Rabu (22/7).

Kegiatan ini berlangsung di bawah naungan atau arahan Ketua atau Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas (UNAND) Henny Lucida. Ketua Program Studi S-2 Magister Manajemen Bencana, Prof. Yenny Narny memimpin jalannya diskusi tersebut. 

Acara berlangsung secara hybrid di The Gade Creative Lounge, Perpustakaan Universitas Andalas, Padang, yang dihadiri lintas organisasi, aktivis, praktisi, akademisi. Selain Rustian, hadir pula Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi serta penulis buku Gempa Tujuh Hari, Yose Hendra.

Dalam kesempatan tersebut, Rustian menilai kajian sejarah bencana memiliki peran penting dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi di masa kini. Menurutnya, Sumatra Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat aktivitas kegempaan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, sejak 1797 hingga 2022 sedikitnya terjadi sembilan gempa besar, mulai dari gempa dan tsunami Megathrust Mentawai 1797, gempa Megathrust 1833, Gempa Padang Panjang-Lembah Anai 1926, Gempa Pasaman 1977, Gempa Kerinci-Solok Selatan 1995, Gempa Solok-Tanah Datar 2007, Gempa Padang 2009, gempa dan tsunami Mentawai 2010, hingga Gempa Pasaman Barat 2022. 

"Rangkaian bencana tersebut menunjukkan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, masih memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap ancaman gempa bumi. Karena itu, pengurangan risiko bencana harus diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan jangka menengah maupun jangka panjang," kata Rustian. 

Menghidupkan Kearifan Lokal

Ia juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana. Salah satu contohnya ialah rumah panggung tradisional Minangkabau yang dinilai memiliki karakter konstruksi adaptif terhadap gempa.

"Desain tiang rumah yang tidak ditanam langsung ke tanah membuat bangunan dapat mengikuti arah guncangan gempa. Prinsip ini memiliki kemiripan dengan konsep base isolator pada teknologi bangunan modern. Dan rumah gadang ini sudah dikenal luas di dunia atau seperti ikon Indonesia di dunia, sebagai bangunan aman gempa," ujarnya. 

Sementara itu, Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi membagikan pengalaman penanganan pascagempa Padang 2009. Ia menyatakan bencana tersebut mengakibatkan sekitar 249.433 rumah mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat. 

Menurut Dody, proses rehabilitasi dan rekonstruksi melahirkan banyak pembelajaran, mulai dari inovasi teknologi konstruksi, penyempurnaan standar bangunan tahan gempa, pembenahan tata kelola perizinan bangunan, peningkatan kapasitas tenaga tukang, hingga meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya membangun rumah yang aman. 

"Tantangan berikutnya adalah mempertahankan kesadaran itu agar tidak menurun seiring berjalannya waktu," katanya.

Belajar dari Sejarah 

Pada sesi bedah buku, Yose Hendra menjelaskan bahwa buku Gempa Tujuh Hari disusun untuk menghadirkan kembali memori kolektif mengenai salah satu bencana terbesar di Sumatra Barat sekaligus menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran mitigasi. Menurut Yose, masyarakat Sumatra Barat hidup berdampingan dengan dua sumber ancaman gempa, yakni Zona Subduksi Mentawai dan Sesar Sumatra yang hingga kini masih aktif.

"Sejarah menunjukkan gempa besar pada jalur Sesar Sumatra berulang, seperti tahun 1822, 1926, dan 2007. Bahkan wilayah ini mengenal fenomena doublet earthquake, yakni dua gempa utama yang terjadi berurutan dalam waktu singkat pada segmen sesar yang berbeda," jelas Yose yang sudah 16 tahun menjadi wartawan Media Indonesia itu. 

Ia mengungkapkan, gempa 28 Juni 1926 menjadikan Padang Panjang sebagai wilayah dengan dampak paling parah sehingga peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Gempa Padang Panjang.

Sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat, dengan 1.709 rumah berada di wilayah X Koto. Korban jiwa mencapai 247 orang, termasuk 220 orang di Padang Panjang dan X Koto. Kerusakan juga meluas hingga Fort de Kock (Bukittinggi), Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau, dan Lubuk Sikaping dengan total kerugian diperkirakan mencapai sekitar 10 juta gulden. Yose menjelaskan, istilah "Gampo Tujuh Hari" lahir karena setelah gempa utama pada 28 Juni 1926, ratusan gempa susulan terus mengguncang selama berhari-hari. Getaran bahkan masih tercatat hingga Agustus 1926.

"Istilah itu kemudian menjadi memori kolektif masyarakat Minangkabau mengenai salah satu bencana terbesar abad ke-20. Penyebutannya dipopulerkan media-media pada masa itu dan diperkuat oleh anggota Volksraad Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo dalam percakapannya dengan ahli zoologi Edward Richard Jacobson," ujar Yose.

Kampus Dorong Literasi Kebencanaan 

Henny Lucida mengatakan kegiatan Lecture and Learning Session Series merupakan ruang akademik untuk mempertemukan hasil riset, pengalaman praktis, dan pembelajaran sejarah dalam membangun budaya sadar bencana.

Sementara Yenny Narny mengatakan, peringatan seabad gempa Padang Panjang menjadi momentum penting untuk memperkuat literasi kebencanaan di kalangan mahasiswa, peneliti, praktisi, pemerintah, hingga masyarakat. 

“Satu abad telah berlalu sejak Gempa Padang Panjang menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Momentum ini menjadi pengingat bahwa membangun masyarakat yang tangguh dimulai dari pengetahuan, kolaborasi, dan aksi nyata,” ungkapnya. 

"Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana pada masa depan," ujarnya lagi.

Diskusi diakhiri dengan sesi tanya jawab yang membahas berbagai strategi pengurangan risiko bencana, pentingnya pelestarian pengetahuan lokal, serta penguatan budaya kesiapsiagaan di tengah tingginya ancaman gempa bumi di Sumatra Barat. (YH/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |