GURU Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Kacung Marijan(DOK.DITJEN KEBUDAYAAN KEMENDIKBUD )
GURU Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Kacung Marijan menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto dalam pembukaan Muktamar NU di Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8). Kacung menilai ajakan Prabowo untuk mempererat hubungan antara ulama dan umara merupakan hal positif. Namun, ia mengingatkan agar sinergi pemerintah dengan organisasi keagamaan tidak dimaknai sebatas dukungan politik ketika negara sedang menghadapi masalah.
"Sinergi itu bukan hanya sekadar mendukung. Jangan sampai juga sinergi itu berarti mendukung ketika ada masalah, disuruh dukung. Tapi kalau sudah enak, ditinggal," kata dia ketika dihubungi, Kamis (27/8).
Menurut Kacung, NU dan Muhammadiyah memiliki posisi strategis karena mempunyai basis massa yang besar. Peran kedua organisasi tersebut juga telah terlihat jauh sebelum Indonesia merdeka hingga masa kini.
Ia mencontohkan lagu Yalal Wathon yang telah diciptakan sebelum kemerdekaan. Menurutnya, lagu tersebut menunjukkan kuatnya semangat nasionalisme kalangan ulama bahkan sebelum Indonesia berdiri sebagai negara.
"Awalnya kan soal lagu Yalal Wathon yang tercipta sebelum kemerdekaan Indonesia. Tapi intinya malah cukup dahsyat, tidak kalah dengan lagu kebangsaan Indonesia. Artinya itu jauh sebelum kemerdekaan," tuturnya.
Ia menambahkan keterlibatan ulama dalam fase awal mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa 10 November, kata dia, sebagai salah satu momentum yang memperlihatkan kontribusi para ulama dalam perjuangan bangsa.
Menurut dia, relevansi organisasi keagamaan tidak berhenti pada catatan sejarah. Saat ini, keberadaan NU dan Muhammadiyah tetap penting karena aktivitas dan kebijakan kedua organisasi dengan basis massa besar tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi sosial bangsa.
Namun, besarnya kontribusi tersebut dinilai belum sepenuhnya dibarengi dengan upaya negara untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan kelompok keagamaan. Salah satu sektor yang menurut Kacung masih membutuhkan perhatian adalah pendidikan.
"Cuma kan kontribusi besar tersebut belum diimbangi oleh sinergi bagaimana meningkatkan kualitas dan kesejahteraan kelompok keagamaan ini. Negara belum banyak berbuat untuk NU dan Muhammadiyah," terang Kacung.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat penguatan di bidang pendidikan masih tertinggal. Karena itu, sinergi pemerintah dengan organisasi keagamaan perlu diarahkan pada kerja bersama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di sisi lain, Kacung menilai organisasi keagamaan juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan kritik dan masukan kepada pemerintah. Menurutnya, hubungan yang sehat tidak berarti organisasi keagamaan harus selalu memberikan dukungan terhadap kebijakan pemerintah.
"Organisasi keagaaman juga perlu memberikan masukan-masukan ketika pemerintah ada hal yang kurang baik. Organisasi keagamaan itu mengingatkan. Jangan hanya sekadar minta dukungan, tapi juga pemerintah harus mau diingatkan," kata dia.
Dengan demikian, ia menekankan pentingnya menjaga hubungan pemerintah dan organisasi keagamaan agar tidak bersifat situasional. (H-4)


















































