Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X .(MI/Agus Utantoro-HO)
GERAKAN Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didorong untuk mengambil peran nyata dalam memperkuat kemandirian pangan. Langkah tersebut dapat dimulai dari menanam pangan, mengelola pekarangan, menghemat air, hingga mengajak masyarakat menghargai hasil bumi.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Majelis Pembimbing Kwarda Gerakan Pramuka DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat menjadi Pembina Apel Besar Hari Pramuka ke-63 Tingkat Daerah DIY di Alun-alun Wonosari, Gunungkidul, Sabtu (22/8).
Apel bertema Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045, itu dihadiri Ketua Kwarda Gerakan Pramuka DIY GKR Hayu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, jajaran Forkopimda, serta pengurus dan anggota Pramuka se-DIY.
Mengawali amanatnya, Sri Sultan mengajak peserta melihat Gunungkidul sebagai wilayah yang mengajarkan keteguhan. Kondisi tanah karst, musim kemarau panjang, dan keterbatasan air menjadi pengalaman yang menempa daya tahan masyarakat.
“Kita berhimpun hari ini di bumi Gunungkidul. Tanah yang mengajarkan keteguhan. Batu karst, musim kemarau panjang, keterbatasan air, telah menjadi guru bagi masyarakatnya,” ujar Sri Sultan.
Gubernur DIY itu menyatakan daya tahan lahir dari ketekunan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada Kongres Kepanduan Dunia 1971 di Tokyo melalui pidato The Trend in Scouting, yang menegaskan Pramuka sebagai manusia pembangunan yang andal.
Dalam konteks pangan, Sri Sultan mengajak Pramuka menerapkan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana melalui pemulihan kesuburan lahan dan penghormatan terhadap peran petani.
“Produksi boleh ditingkatkan, tetapi kesuburan tanah harus dipulihkan. Teknologi boleh diterapkan, tetapi manusia dan alam tetap dimuliakan,” tegasnya.
Ia juga mendorong Pramuka memperkuat program Lumbung Mataraman demi menghidupkan budaya agraris. Hal ini selaras dengan prinsip 'mangan apa sing ditandur, nandur apa sing dipangan'.
“Ketika anak-anak Pramuka menanam cabai di halaman sekolah, mendampingi warga menata pekarangan, atau mengajak sesama tidak membuang makanan, mereka sedang ikut menjaga masa depan bangsa,” kata Sri Sultan.
Sri Sultan meminta pembina mengenalkan proses pangan sejak dini serta menjadikan Lumbung Mataraman sebagai laboratorium sosial Pramuka. Dari Gunungkidul, ia menegaskan keterbatasan alam bukanlah alasan untuk menyerah.
“Batu karst mengajarkan keteguhan. Pekarangan mengajarkan kemandirian. Pramuka mengajarkan pengabdian,” ungkapnya.
Rangkaian acara diakhiri dengan penganugerahan tanda penghargaan Gerakan Pramuka serta penyerahan bibit pohon secara simbolis kepada Ketua Majelis Pembimbing Cabang se-DIY.
Sri Sultan pun mengajak Pramuka menjadikan swasembada pangan sebagai gerakan kebudayaan dan kebangsaan.
“Gerakan kebudayaan, karena menuntun manusia hidup selaras dengan tanah dan sesama. Gerakan kebangsaan, karena memperkuat kedaulatan rakyat dari keluarga hingga kalurahan,” pungkasnya. (AU/P-2)


















































