Unggahan video terbaru dari figur publik Maudy Ayunda pada 21 Agustus 2026 berjudul Mindfulness in the Age of Bad News memicu diskusi luas di jagat maya.(YouTube @modmedia)
Unggahan video terbaru dari figur publik Maudy Ayunda pada 21 Agustus 2026 berjudul Mindfulness in the Age of Bad News memicu diskusi luas di jagat maya. Dalam video tersebut, Maudy membagikan perspektif pribadinya mengenai cara menjaga kesehatan mental dan tetap berkesadaran (mindful) di tengah gempuran informasi negatif yang datang bertubi-tubi.
Maudy menekankan pentingnya menyaring informasi agar beban mental tidak berlebihan. Namun, alih-alih mendapat sambutan sepenuhnya positif, konten tersebut justru memanen kritik. Sejumlah netizen menilai pesan yang disampaikan cenderung tone deaf dan berangkat dari posisi privilege (hak istimewa). Salah satu komentar yang viral menyatakan, "Bad news kamu adalah bad reality dari orang-orang tau, info aja," merujuk pada perbedaan realitas antara pemberi saran dengan masyarakat yang terdampak langsung oleh berita buruk tersebut.
Di balik kontroversi tersebut, istilah Stoicism atau Stoisisme mendadak menjadi perbincangan hangat. Banyak orang mulai mencari tahu bagaimana filsafat kuno ini dapat membantu manusia modern menghadapi krisis tanpa harus kehilangan empati atau menjadi abai terhadap realitas sosial.
Apa Itu Stoicism?
Stoicism adalah aliran filsafat Yunani kuno yang didirikan oleh Zeno dari Citium di Athena pada awal abad ke-3 SM. Aliran ini bukan sekadar teori, melainkan panduan praktis untuk menjalani hidup. Tujuan utama dari Stoicism adalah mencapai Eudaimonia atau kesejahteraan jiwa yang mendalam.
Untuk mencapai kondisi tersebut, seorang praktisi Stoa melatih empat kebajikan utama (cardinal virtues):
- Wisdom (Kebijaksanaan): Kemampuan menavigasi situasi sulit secara logis dan tenang.
- Justice (Keadilan): Memperlakukan orang lain dengan jujur dan adil, bahkan saat situasi tidak memihak kita.
- Courage (Keberanian): Keteguhan hati menghadapi tantangan dan ketidakpastian.
- Temperance (Menahan Diri): Disiplin diri dan moderasi dalam segala hal.
Filsafat ini mengajarkan agar kita tidak membiarkan emosi negatif seperti amarah, ketakutan, atau kecemburuan mendikte tindakan kita.
Prinsip Utama: Dikotomi Kendali
Inti dari ajaran Stoicism adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak. Prinsip ini bertujuan untuk menghindari frustrasi akibat mencoba mengontrol hal-hal yang mustahil diubah.
1. Hal yang Bisa Kita Kendalikan:
- Pikiran dan opini pribadi.
- Keinginan dan ambisi sendiri.
- Tindakan dan respons kita terhadap suatu peristiwa.
- Nilai-nilai moral yang kita anut.
2. Hal yang Tidak Bisa Kita Kendalikan:
- Tindakan, perkataan, dan opini orang lain.
- Kondisi ekonomi atau konstelasi politik dunia.
- Fenomena alam dan cuaca.
- Hasil akhir dari sebuah usaha (yang sering dipengaruhi faktor eksternal).
- Masa lalu yang sudah terjadi.
Apakah Stoicism Mengajak Kita Menjadi Cuek?
Muncul anggapan bahwa Stoicism mengajarkan orang untuk menjadi dingin atau tidak peduli terhadap masalah sosial. Namun, prinsip ini justru sebaliknya. Stoicism tidak meminta kita menutup mata dari masalah di sekitar, melainkan mengajak kita untuk menghemat energi.
Dengan tidak menghabiskan energi mental pada hal-hal yang tidak bisa diubah (seperti kebijakan global yang sudah diputuskan atau komentar jahat orang asing), kita memiliki sisa energi yang cukup untuk melakukan tindakan nyata pada hal-hal yang bisa kita ubah. Ketenangan batin dalam Stoicism bukanlah tujuan akhir untuk berdiam diri, melainkan bekal agar kita bisa bertindak bijak saat situasi sedang sulit.
Perbandingan Stoicism vs Mindfulness
Meskipun sering disandingkan, keduanya memiliki pendekatan yang berbeda dalam menjaga kesehatan mental. Berdasarkan penjelasan Psikolog Kak Gun, berikut adalah perbedaannya:
| Fokus Utama | Pengendalian pikiran dan tindakan berdasarkan logika. | Kesadaran penuh pada momen saat ini (present moment). |
| Pendekatan | Menawarkan pandangan bahwa kita memiliki kendali atas respons internal. | Mengajarkan untuk hadir tanpa penilaian (non-judgmental). |
| Tujuan | Membentuk karakter dan kebajikan melalui rasionalitas. | Mengurangi kecemasan akan masa depan atau penyesalan masa lalu. |
Checklist Praktis Menghadapi "Bad News"
Jika Anda merasa terbebani dengan arus informasi negatif saat ini, berikut langkah praktis yang bisa diambil:
- Batasi Durasi: Tentukan waktu khusus untuk membaca berita (misal: 15 menit di pagi hari) agar tidak terjadi doomscrolling.
- Verifikasi Sumber: Pastikan informasi berasal dari sumber kredibel untuk menghindari kecemasan akibat hoaks.
- Terapkan Dikotomi Kendali: Tanya pada diri sendiri, "Apakah ada yang bisa saya lakukan secara nyata untuk masalah ini?" Jika ada, lakukan. Jika tidak, lepaskan beban emosionalnya.
- Latih Kehadiran: Gunakan teknik pernapasan atau meditasi singkat untuk kembali ke momen saat ini ketika pikiran mulai kewalahan.
- Sumber: halodoc.com, psikologkakgun.com


















































