Samsung mengukur kesuksesan Galaxy AI melalui tingkat penggunaan harian (repeat usage).(Dok. Samsung)
SAMSUN menegaskan bahwa keberhasilan teknologi Galaxy AI tidak lagi diukur dari kuantitas fitur yang tersedia, melainkan dari seberapa sering fitur tersebut digunakan kembali oleh pengguna dalam aktivitas sehari-hari. Tingkat penggunaan berulang (repeat usage) menjadi indikator utama bahwa kecerdasan buatan memberikan manfaat nyata bagi produktivitas.
Pendekatan ini menjadi inti dari strategi pengembangan Galaxy AI. Berbagai fitur seperti penerjemahan langsung, perangkum catatan otomatis, bantuan menulis, hingga fitur populer Circle to Search dirancang untuk menyatu dengan rutinitas pengguna, bukan sekadar menjadi pelengkap teknologi.
Berdasarkan data yang diungkapkan dalam ajang Galaxy AI Forum 2025, Samsung mencatat lebih dari 70 persen pengguna Galaxy S25 telah aktif memanfaatkan berbagai fitur Galaxy AI. Angka ini menunjukkan penerimaan pasar yang tinggi terhadap integrasi AI dalam perangkat flagship terbaru mereka.
Selain fitur internal, kolaborasi dengan Google juga menunjukkan hasil signifikan. Penggunaan Google Gemini pada perangkat Galaxy dilaporkan meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan generasi sebelumnya, menandakan ketergantungan pengguna yang semakin besar pada asisten cerdas.
Ke depan, Samsung menargetkan perluasan jangkauan Galaxy AI ke lebih dari 400 juta perangkat di seluruh dunia. Langkah ini dibarengi dengan pengembangan AI yang lebih personal, yang mampu memahami kebiasaan individu untuk memberikan rekomendasi relevan dengan tetap menjaga keamanan data pribadi.
Melalui visi ini, Samsung berkomitmen menjadikan Galaxy AI sebagai pendukung aktivitas manusia, bukan pengganti peran manusia. Perusahaan berharap teknologi ini dapat menciptakan pengalaman penggunaan perangkat yang lebih efisien dan menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup digital global. (Samsung Mobile Press/Z-10)


















































