Stres saat Hamil Bisa Tingkatkan Risiko Kelahiran Prematur, Ini Penjelasannya

6 days ago 4
Stres saat Hamil Bisa Tingkatkan Risiko Kelahiran Prematur, Ini Penjelasannya Ilustrasi(Dok Magnific)

KEHAMILAN tidak hanya membawa perubahan pada kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis ibu. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah stres yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi tersebut dibahas dalam sebuah artikel ilmiah karena respons tubuh terhadap stres kronis diduga dapat berinteraksi dengan proses biologis selama kehamilan dan berkaitan dengan waktu persalinan.

Stres Kronis Selama Kehamilan

Hal tersebut dibahas Gwen Latendresse, CNM, PhD, dari University of Utah College of Nursing, dalam artikel berjudul The Interaction Between Chronic Stress and Pregnancy: Preterm Birth from a Biobehavioral Perspective yang tersedia di PubMed Central. Artikel tersebut mengulas berbagai penelitian mengenai hubungan stres kronis dengan kehamilan, khususnya kemungkinan kaitannya dengan kelahiran prematur.

Dalam pembahasannya, Latendresse menjelaskan bahwa stres kronis berbeda dengan tekanan yang hanya berlangsung sesaat. Stres dapat disebut kronis ketika tekanan atau kecemasan terus dirasakan dalam jangka panjang sehingga tubuh berulang kali harus merespons kondisi tersebut. Sejumlah sumber stres yang dibahas dalam artikel antara lain kemiskinan, kecemasan berkepanjangan, kekerasan dalam hubungan, dan pengalaman diskriminasi.

Bagaimana Stres Memengaruhi Tubuh?

Ketika seseorang terus menghadapi tekanan, tubuh akan berulang kali mengaktifkan sistem respons terhadap stres. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, berbagai perubahan fisiologis dapat terakumulasi. Dalam artikel tersebut, akumulasi perubahan ini disebut allostatic load, yaitu beban fisiologis yang muncul ketika tubuh terus beradaptasi terhadap tekanan.

Respons stres tersebut kemudian menjadi penting dalam pembahasan mengenai kehamilan karena tubuh ibu mengalami perubahan biologis yang kompleks selama proses tersebut. Salah satu bagian yang mendapat perhatian adalah sistem hormonal, termasuk hormon corticotropin-releasing hormone (CRH).

CRH diproduksi oleh plasenta dan kadarnya secara alami meningkat selama kehamilan hingga mendekati persalinan. Karena hormon ini berkaitan dengan proses menjelang kelahiran, perubahan kadarnya kemudian menjadi salah satu hal yang dipelajari dalam kaitannya dengan stres dan waktu persalinan.

Stres dan Risiko Kelahiran Prematur

Artikel Latendresse merangkum sejumlah penelitian yang menemukan adanya hubungan antara stres yang dirasakan ibu, perubahan hormon stres, dan usia kehamilan saat persalinan. Salah satu penelitian yang dibahas menemukan bahwa kadar CRH yang lebih tinggi pada masa kehamilan berkaitan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur.

Namun, temuan tersebut tidak berarti stres menjadi penyebab tunggal kelahiran prematur. Kondisi ini bersifat kompleks dan dapat melibatkan berbagai faktor biologis, psikologis, serta lingkungan. Karena itu, Latendresse menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana stres kronis dan perubahan biologis selama kehamilan dapat saling berinteraksi.

Dengan demikian, menjaga kondisi psikologis selama kehamilan tetap menjadi bagian penting dari perhatian terhadap kesehatan ibu. Terlebih jika tekanan berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena respons stres dapat berhubungan dengan berbagai proses biologis yang terjadi selama kehamilan. (Netty Fatmawati Pane/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |