REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi terbaru mengungkap adanya hubungan kuat antara paparan pestisida pertanian dan peningkatan risiko kanker, terutama di wilayah dengan populasi yang lebih rentan secara sosial. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Health ini dilakukan di Peru dengan menganalisis data lingkungan, registri kanker, serta sampel biologis.
Hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di area dengan paparan pestisida tinggi memiliki risiko terkena kanker hingga 150 persen lebih besar dibandingkan wilayah lain.
"Ini adalah pertama kalinya kami dapat mengaitkan paparan pestisida, dalam skala nasional, dengan perubahan biologis yang menunjukkan peningkatan risiko kanker," ujar Stephane Bertani, peneliti biologi molekuler dari Institut Penelitian Nasional Prancis untuk Pembangunan Berkelanjutan (IRD), dilansir dari Euro News, Jumat (3/4/2026).
Studi ini merupakan kolaborasi antara IRD, Institut Pasteur, Universitas Toulouse, dan Institut Nasional Penyakit Neoplastik Peru. Para peneliti memodelkan penyebaran pestisida di lingkungan selama enam tahun, dari 2014 hingga 2019, untuk menghasilkan peta resolusi tinggi wilayah dengan risiko paparan terbesar.
Hasil pemodelan menunjukkan zona dengan risiko sedang hingga tinggi mencakup lebih dari sepertiga wilayah Peru. Kontaminasi pestisida juga tidak terbatas pada lahan pertanian, tetapi dapat menyebar hingga 30 hingga 50 kilometer dari sumbernya akibat transportasi jarak jauh.
"Wilayah dataran tinggi dan lereng Andes tercatat sebagai area dengan risiko tertinggi, terutama karena curah hujan yang rendah mempercepat akumulasi pestisida di lingkungan," catat peneliti.
Menariknya, bahan kimia pertanian yang dianalisis dalam penelitian ini belum diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Meski demikian, hasil studi menunjukkan adanya dampak biologis yang signifikan.
Peneliti kemudian mengaitkan peta paparan pestisida dengan data lebih dari 150 ribu pasien kanker yang didiagnosis antara 2007 hingga 2020. Analisis molekuler menunjukkan pestisida dapat mengganggu proses yang menjaga fungsi dan identitas sel.
Perubahan ini dapat terjadi sebelum kanker berkembang dan bersifat kumulatif serta tidak menunjukkan gejala awal. Kondisi tersebut dapat membuat jaringan tubuh lebih rentan terhadap faktor risiko lain, seperti infeksi, peradangan, maupun tekanan lingkungan.
Lebih lanjut, studi ini menemukan bahwa tidak semua jenis kanker terdampak secara sama. Risiko terbesar teridentifikasi pada kanker epitel endodermal dan ektodermal, yang merupakan jenis kanker paling umum pada orang dewasa, termasuk kanker pada saluran pencernaan, paru-paru, dan kulit.
Temuan penting lainnya terkait kanker hati, khususnya karsinoma hepatoseluler (HCC), yang menjadi jenis kanker hati paling umum di Peru. Penyakit ini banyak menyerang individu muda tanpa sirosis, terutama mereka yang memiliki keturunan pribumi di wilayah tengah seperti Junín.
Sebelumnya, pola tersebut sering dikaitkan dengan infeksi hepatitis B. Namun, studi ini menemukan bahwa klaster kanker hati juga bertepatan dengan wilayah dengan paparan pestisida tinggi. Selain itu, jaringan hati non-tumor menunjukkan tanda molekuler yang konsisten dengan paparan awal terhadap zat karsinogenik.
Para peneliti menegaskan bahwa luasnya penyebaran pestisida di makanan, air, dan ekosistem membuat pemetaan paparan menjadi sangat kompleks. Di wilayah dengan pertanian intensif, pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan, serta keterbatasan akses layanan kesehatan, dampak pestisida dapat memperburuk ketimpangan kesehatan yang sudah ada.
"Temuan ini menyoroti pentingnya memasukkan aspek keadilan sosial-ekologis dalam kebijakan regulasi, sebagai langkah penting untuk mengurangi dampak lingkungan dan melindungi populasi rentan dari kanker yang dipicu oleh faktor lingkungan," kata peneliti.

6 hours ago
2

















































