Ilustrasi(magnifik)
BERHENTI merokok memang menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kanker paru. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa lamanya seseorang berhenti merokok ternyata perlu menjadi pertimbangan ketika menentukan kapan pemeriksaan kanker paru sebaiknya dilakukan.
Studi tersebut diterbitkan dalam JAMA Network Open dengan judul “Risk-Adapted Lung Cancer Screening Starting Ages for Former Smokers”. Penelitian ini dilakukan oleh Clara Frick, Lára R. Hallsson, Uwe Siebert, Megha Bhardwaj, Ben Schöttker, dan Hermann Brenner. Hasil penelitian dipublikasikan pada 23 Desember 2025 dan dapat diakses secara gratis melalui PubMed Central (PMC)
Semakin Lama Berhenti, Risiko Semakin Menurun
Para peneliti menganalisis data 86.035 orang yang memiliki riwayat merokok berat, dengan sedikitnya 20 pack-year. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.109 orang atau sekitar 2,5 persen didiagnosis mengalami kanker paru selama masa pengamatan.
Hasilnya menunjukkan pola yang cukup jelas. Semakin lama seseorang berhenti merokok, risiko kanker paru semakin rendah. Orang yang sudah berhenti merokok lebih dari 15 tahun memiliki risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang masih merokok.
Temuan ini menunjukkan bahwa waktu sejak seseorang berhenti merokok tidak sekadar menjadi angka, tetapi dapat membantu menggambarkan tingkat risiko kanker paru seseorang.
Usia Skrining Bisa Berbeda
Saat ini, rekomendasi U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) menggunakan kriteria usia dan riwayat merokok untuk menentukan kelompok yang perlu menjalani skrining kanker paru menggunakan low-dose computed tomography (LDCT).
Penelitian Frick dan tim menawarkan pendekatan yang lebih personal. Berdasarkan perhitungan mereka, mantan perokok berat yang berhenti dalam lima tahun terakhir dapat memiliki usia awal skrining sekitar 53 tahun. Sementara itu, mereka yang telah berhenti lebih dari 15 tahun dapat berada pada kisaran 67 tahun, jika tingkat risiko perokok aktif pada usia 50 tahun dijadikan acuan.
Berhenti Merokok Tetap Menjadi Kunci
Meski penelitian ini membahas strategi skrining, pesan pentingnya tetap sama: berhenti merokok memberikan manfaat besar bagi kesehatan.
Para peneliti menilai pendekatan skrining yang disesuaikan dengan risiko dapat membantu menentukan siapa yang paling membutuhkan pemeriksaan dan kapan pemeriksaan sebaiknya dimulai. Hal ini penting karena LDCT memang dapat membantu menemukan kanker paru lebih dini, tetapi skrining juga memiliki potensi dampak seperti hasil positif palsu dan diagnosis berlebihan.
Karena itu, mantan perokok sebaiknya tidak menentukan kebutuhan skrining hanya berdasarkan usia. Riwayat merokok, jumlah paparan rokok, lama berhenti, dan kondisi kesehatan perlu dipertimbangkan bersama oleh tenaga medis.
Sumber: PubMed Central (PMC)


















































