Sungai Juwana Kering, Ribuan Hektare Sawah Terancam Puso dan Nelayan Menganggur

1 month ago 42
Sungai Juwana Kering, Ribuan Hektare Sawah Terancam Puso dan Nelayan Menganggur Sungai Juwana mengalami kekeringan mengakibatkan ribuan hektare sawah kesulitan air dan ratusan nelayan terpaksa menganggur dan tidak dapat mencari ikan.(MI/Akhmad Safuan)

KEMARAU berkepanjangan menyebabkan Sungai Juwana di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengalami kekeringan parah. Kondisi ini mengakibatkan ribuan hektare sawah yang mengandalkan pengairan dari sungai tersebut terancam puso (mati), sementara ratusan perahu nelayan lumpuh total tidak dapat beroperasi.

Berdasarkan pemantauan pada Jumat (21/8/2026), suasana memprihatinkan terlihat di sepanjang aliran Sungai Juwana. Air sungai yang biasanya melimpah, bahkan sering meluap saat musim penghujan, kini mengering hingga dasar sungai terlihat. Dampaknya, aktivitas ekonomi warga yang bergantung pada sungai tersebut terhenti total.

Ribuan nelayan terpaksa menganggur karena perahu dan kapal mereka terjebak di lumpur sungai yang mengering. Tidak hanya nelayan sungai, para nelayan laut pun tidak dapat melaut karena kapal mereka tidak bisa digerakkan menuju muara.

"Sekarang ini kami menghadapi kebingungan, karena tanaman padi berusia 1-4 pekan terancam mati karena kekurangan air sebagai dampak Sungai Juwana kering," ujar Sugi, 65, petani di Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati.

Keluhan senada disampaikan Aliyah, petani lain. Ia menyebutkan bahwa air sungai surut secara drastis sejak sepekan lalu hingga akhirnya kering kerontang. Kondisi ini membuat ribuan hektare sawah di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana mengalami krisis air yang akut. Para petani berharap pemerintah segera melakukan tindakan cepat untuk menyelamatkan tanaman mereka.

Di sektor perikanan, Suradi, 50, seorang nelayan setempat, mengungkapkan bahwa kekeringan kali ini mengingatkan pada kejadian serupa dua tahun lalu. "Ribuan nelayan terpaksa menganggur dan kami berharap masalah ini segera diatasi," katanya.

Asnawi, nelayan lain, menambahkan bahwa kapal-kapal besar yang hendak menuju laut lepas kini terjebak di tengah sungai. Tanpa debit air yang cukup, kapal-kapal tersebut tidak mungkin dibawa ke muara untuk mencari ikan.

Efektivitas Bendung Karet Dipertanyakan

Ari Subekti dari Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan) menilai kekeringan ini merupakan yang kedua kali terjadi sejak ada Bendung Karet di Bungasrejo, Kecamatan Jakenan. Menurutnya, proyek bendung karet tersebut seolah tidak berdaya menghadapi kemarau ekstrem tahun ini.

Sebagai solusi jangka pendek, Jampisawan mendesak pemerintah untuk segera menggelontorkan air dari Waduk Kedung Ombo atau Waduk Logung Kudus. Langkah ini dinilai krusial untuk menghidupkan kembali aliran sungai guna mengairi sawah dan membebaskan kapal nelayan yang terjebak.

"Kami meminta ada langkah konkret untuk mengatasi kekeringan ini, apalagi diperkirakan kemarau masih akan berlangsung hingga beberapa pekan mendatang," tegas Ari. (I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |