Pasangan selebritas Baim dan Artika Sari Devi berkisah tentang tentangan mengasuh anak dari generasi berbeda di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.(MI/Nunuy Nurhayati)
Menjadi orang tua di era digital tentu memiliki tantangan tersendiri. Apalagi ketika anak-anak yang dibesarkan merupakan bagian dari generasi yang sejak kecil sudah akrab dengan internet dan teknologi. Hal itu pula yang dirasakan pasangan selebritas Baim dan Artika Sari Devi. Mereka memiliki dua anak yang berasal dari generasi berbeda, yakni Gen Z dan Gen Alpha. Pengalaman mendampingi keduanya membuat mereka melihat bahwa setiap generasi membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Anak pertama mereka, Sarah Abiela Ibrahim, yang kini duduk di bangku SMA termasuk generasi Z. Sementara anak kedua mereka, Dayana Zoelie Ibrahim, yang masih di jenjang SMP merupakan bagian dari Gen Alpha.
Menurut Artika, pengalaman mendampingi anak Gen Z dan Gen Alpha memberikan tantangan yang berbeda. “Apalagi, anak Gen Alpha tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu cepat,” tutur Artika saat menghadiri acara official launch Veritas Intercultural School (VIS) di Kelapa Gading, Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.
Karena itu, lanjut Artika, peran orang tua dan sekolah menjadi semakin penting untuk membantu anak memahami bagaimana menggunakan teknologi dan menghadapi berbagai perubahan di sekitarnya. Pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Di rumah, Baim dan Artika juga berusaha memberikan ruang kepada anak-anak untuk mencoba berbagai hal baru. Di sisi lain, mereka tetap memberikan batasan.
Artika menyadari, anak-anak Gen Alpha memiliki rasa ingin tahu yang besar dan selalu antusias mencoba sesuatu yang baru. Karena itu, menurutnya, orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi, tetapi tetap mendampingi dan memantau pilihan mereka. "Kita tetap lepas mereka untuk mengenalkan hal-hal yang baru. Mereka memilih, kita pantau dan kita bimbing. Memberikan batasan itu yang paling penting untuk anak Gen Alpha," tutur Artika.
Cara berkomunikasi pun ikut berubah. Jika dengan anak Gen Z orang tua masih bisa memberikan penjelasan secara logis dan berharap anak langsung memahami, menghadapi Gen Alpha terkadang membutuhkan kesabaran ekstra.
Artika pun punya cara sederhana ketika menghadapi anak yang sedang berargumentasi. “Terkadang orang tua perlu membiarkan anak berbicara dan mengeluarkan semua pendapatnya terlebih dahulu. Setelah anak merasa didengarkan, barulah orang tua menyampaikan pandangan dan memberikan arahan,” ujarnya.
Bagi Baim dan Artika, menjadi orang tua di era sekarang memang membutuhkan keseimbangan. Anak tidak bisa terus-menerus dikontrol, tetapi juga tidak bisa dibiarkan tanpa batas. Mereka perlu diberi ruang untuk mencoba, kesempatan untuk mengambil keputusan, sekaligus pendampingan agar mampu memahami konsekuensi dari setiap pilihannya. (X-6)


















































