Tekanan Ekonomi Total AS Menghantam Iran, Mampukah Teheran Bertahan?

3 weeks ago 31
Tekanan Ekonomi Total AS Menghantam Iran, Mampukah Teheran Bertahan? Ilustrasi.(Magnific)

AMERIKA Serikat (AS) meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengalihkan fokus dari operasi militer ke strategi ekonomi skala penuh. Washington bahkan mengancam negara-negara yang masih memberikan dukungan kepada Teheran dengan sanksi berat.

Presiden AS Donald Trump menyebut kebijakan tersebut sebagai Economic D-Day dan mendesak negara-negara sekutu Washington ikut mengisolasi Iran secara ekonomi.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kampanye tekanan ekonomi maksimum tersebut diharapkan dapat mengurangi kemungkinan Washington kembali menjalankan operasi militer besar-besaran terhadap Iran.

Namun, tekanan ekonomi yang semakin berat belum membuat pemerintah Iran menunjukkan tanda-tanda menyerah. Sejumlah pejabat Teheran justru berulang kali menegaskan bahwa Iran akan terus melawan, termasuk menghadapi negara-negara yang ikut menerapkan tekanan terhadap mereka.

Iran Ancam Balasan jika Sanksi Diperluas

Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei memperingatkan Washington bahwa Teheran akan memberikan respons keras apabila tekanan ekonomi terus dilanjutkan. Ia menggambarkan kemungkinan pembalasan Iran sebagai sesuatu yang akan terjadi seperti gempa bumi.

Rezaei juga memperingatkan negara-negara di sekitar Teluk agar tidak ikut dalam kampanye sanksi Amerika Serikat.

"Jika negara-negara di sekitar Iran bergabung dengan Amerika dalam perang ekonomi mereka, tidak setetes pun minyak akan keluar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz," kata Rezaei, seraya menambahkan bahwa Iran juga dapat menargetkan jalur ekspor minyak lainnya yang berada di kawasan Teluk.

Ancaman tersebut muncul ketika lalu lintas perdagangan melalui Selat Hormuz masih mengalami gangguan serius sepanjang akhir pekan. Situasi itu semakin meningkatkan tekanan terhadap pasar energi global.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut dapat memengaruhi distribusi minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi internasional.

Iran Sebut Sanksi AS tidak akan Berhasil

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kebijakan sanksi baru Washington sebagai tanda keputusasaan Amerika Serikat.

Menurut Araghchi, tekanan ekonomi tersebut tidak akan mampu memaksa Teheran menyerah. Ia menilai Washington hanya mengganti pendekatan militer dengan apa yang disebutnya sebagai rencana lama yang sama.

Pandangan tersebut juga disampaikan Reza Nasri, seorang pengacara internasional yang memiliki hubungan dengan Kementerian Luar Negeri Iran. 

Ia menilai kebijakan Washington bukan sekadar tindakan terhadap Iran, melainkan upaya memperluas kewenangan AS terhadap negara-negara lain.

"Ini adalah klaim yurisdiksi atas dunia, dan setiap negara berdaulat di bumi adalah penerima sebenarnya. Iran hanyalah pemicunya. Tuntutan agar tidak ada negara yang mengizinkan bank, bisnis, bandara, atau pendaftaran kapalnya sendiri untuk terlibat dalam perdagangan yang sah dengan negara lain ditujukan kepada semua orang. Kedaulatan itu sendiri adalah targetnya," sebut Reza.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei juga menegaskan bahwa sanksi terbaru AS pada akhirnya akan kembali gagal mencapai tujuan Washington.

"Mengulangi metode yang sebelumnya terbukti gagal tidak akan menghasilkan hasil yang berbeda, kecuali menunjukkan sejauh mana Amerika bersikap bermusuhan dan penuh dendam terhadap setiap warga Iran, karena mereka tahu betul bahwa dampak sanksi ini akan memengaruhi warga negara Iran biasa," ujar Esmail.

"Memaksa atau mengintimidasi negara lain untuk menghentikan atau membatasi hubungan perdagangan mereka dengan negara lain berarti melanggar landasan terpenting hubungan internasional dan pilar paling mendasar dari piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu penghormatan terhadap kedaulatan nasional negara-negara," tambahnya.

Puluhan Tahun Hidup di Bawah Sanksi

Profesor studi Asia Barat di Universitas Teheran Hassan Ahmadian mengatakan langkah terbaru Washington sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Iran.

"Segala sesuatu di Iran telah berada di bawah sanksi primer dan sekunder sejak 2018. Karena sanksi-sanksi ini gagal mencapai tujuan yang diinginkan AS dan Israel, kedua pihak beralih ke aksi militer," kata Hassan.

Iran telah menghadapi sanksi ekonomi Amerika Serikat selama puluhan tahun. Tekanan tersebut semakin berat karena disertai konflik dan serangan militer.

Dampaknya terasa langsung terhadap perekonomian dan kehidupan masyarakat. Inflasi meningkat, sementara jutaan pekerjaan disebut hilang atau terhenti akibat tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Harga berbagai kebutuhan juga mengalami kenaikan signifikan. Makanan, obat-obatan, kendaraan, peralatan listrik, hingga produk petrokimia dilaporkan mengalami lonjakan harga dibandingkan pekan sebelumnya.

Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh kombinasi persoalan domestik, serangan terhadap infrastruktur, sanksi AS, blokade laut, serta pemadaman internet yang hampir total dan telah berlangsung selama sekitar enam bulan.

Mata uang Iran, rial, juga mengalami tekanan berat. Nilainya di pasar terbuka jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, mencapai sekitar 1,84 juta rial untuk setiap dolar AS. Pelemahan tersebut semakin menggerus daya beli masyarakat.

Rezim Iran masih Bertahan

Meski tekanan ekonomi semakin besar, kondisi tersebut belum menjadi bukti bahwa pemerintahan Iran akan segera runtuh. Para penguasa Iran hingga kini masih menunjukkan soliditas dalam menghadapi tekanan dari luar.

Teheran mengandalkan sejumlah strategi untuk mempertahankan aktivitas ekonominya, mulai dari peningkatan produksi domestik, ekspor minyak secara terselubung ke Tiongkok, hingga penggunaan jaringan perbankan bayangan.

Jaringan perbankan bayangan atau shadow banking merupakan sistem keuangan paralel dan tidak resmi yang digunakan Iran untuk memindahkan dana, melakukan transaksi minyak, serta memperoleh mata uang asing dengan tujuan menghindari sanksi internasional.

Sementara itu, ekspor minyak terselubung Iran ke Tiongkok menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi Teheran.

Tiongkok disebut menyerap sekitar 80% hingga 90% ekspor minyak Iran, dengan volume mencapai sekitar 1,4 juta barel per hari.

Iran Cari Jalur Alternatif untuk Ekspor Minyak

Gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz membuat Iran mencari alternatif untuk mempertahankan aktivitas perdagangan dengan Tiongkok. 

Pada Maret, Iran tercatat mengekspor sekitar 1,84 juta barel minyak per hari kepada pelanggan di Asia, dengan sebagian besar pengiriman menuju Tiongkok.

Namun, meskipun sejumlah kapal masih berhasil melewati hambatan dan blokade, Iran tetap menghadapi kesulitan untuk mengangkut seluruh minyak yang diproduksinya setiap hari.

Karena itu, Teheran mulai mengalihkan sebagian aktivitas perdagangan menuju jalur darat. Salah satu alternatif yang dipertimbangkan adalah jalur kereta api yang melewati kawasan Asia Tengah untuk menjaga hubungan perdagangan dengan Tiongkok.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Iran mempertahankan arus perdagangan di tengah tekanan ekonomi Amerika Serikat, gangguan pelayaran, dan pembatasan terhadap ekspor minyak.

Dengan sanksi yang semakin diperketat, kemampuan Iran mempertahankan jaringan perdagangan alternatif akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah tekanan ekonomi Washington mampu melemahkan Teheran atau justru mendorong Iran semakin mengandalkan jaringan perdagangan nonkonvensional. (CNN/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |