Ilustrasi karya seniman tentang Observatorium Neil Gehrels Swift milik NASA, yang diluncurkan ke orbit Bumi pada November 2004 dan akan segera jatuh dari angkasa.(Dok.Laboratorium Gambar Konseptual Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA)
TELESKOP ruang angkasa Swift milik NASA diperkirakan akan kembali memasuki atmosfer Bumi dalam waktu dekat setelah upaya untuk menyelamatkan observatorium tersebut dari jatuh ke Bumi mengalami kegagalan.
Observatorium yang secara resmi bernama Neil Gehrels Swift Observatory itu diluncurkan pada November 2004. Selama lebih dari dua dekade, Swift digunakan untuk mengamati semburan sinar gamma atau gamma-ray bursts, salah satu ledakan paling dahsyat yang diketahui terjadi di alam semesta.
Selain semburan sinar gamma, observatorium tersebut juga digunakan untuk mempelajari berbagai objek dan fenomena kosmik menggunakan tiga instrumen teleskop yang dimilikinya.
Kini, misi ilmiah Swift telah berakhir. Namun, NASA masih menghadapi persoalan lain karena orbit observatorium tersebut terus menurun.
Penurunan orbit itu dipengaruhi meningkatnya aktivitas Matahari yang membuat atmosfer bagian atas Bumi mengembang. Kondisi tersebut meningkatkan hambatan terhadap benda-benda yang berada di orbit rendah sehingga secara perlahan kehilangan ketinggian.
NASA pada September 2025 kemudian membuka kesempatan bagi perusahaan swasta untuk membantu meningkatkan kembali orbit Swift sebelum observatorium tersebut masuk ke atmosfer dan terbakar.
Perusahaan asal Arizona, Katalyst Space Technologies, akhirnya mendapatkan kontrak senilai USD 30 juta atau sekitar Rp500 miliar untuk menjalankan misi tersebut.
Katalyst kemudian mengembangkan pesawat ruang angkasa robotik bernama LINK. Wahana itu diluncurkan pada 3 Juli 2026 dengan tujuan mendekati Swift, kemudian mendorong observatorium tersebut ke orbit yang lebih tinggi.
Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. LINK mengalami masalah dalam pengendalian posisi setelah diluncurkan sehingga upaya untuk menyelamatkan Swift akhirnya dibatalkan.
CEO Katalyst Space Technologies Ghonhee Lee mengatakan misi tersebut memang memiliki tingkat kesulitan dan risiko yang sangat tinggi karena perusahaan harus merancang, membangun, dan meluncurkan robot luar angkasa dalam waktu sekitar sembilan bulan.
Lee menilai tambahan waktu beberapa bulan dapat memberikan perbedaan besar dalam persiapan misi tersebut. Dengan gagalnya upaya peningkatan orbit, Swift kini diperkirakan akan memasuki atmosfer Bumi tanpa kendali.
“Swift kemungkinan tidak akan masuk kembali sebelum Oktober. NASA akan membagikan informasi lebih lanjut saat waktu masuk kembali semakin dekat,” kata Alise Fisher, spesialis urusan publik bidang astrofisika di Kantor Komunikasi Markas Besar NASA, dilansir dari Space.com, Minggu (13/9).
Saat memasuki atmosfer, sebagian besar bagian Swift diperkirakan akan terbakar akibat panas dan gesekan yang sangat tinggi.
Risiko Berbahaya Kecil
Namun, NASA memperkirakan beberapa komponennya kemungkinan masih dapat bertahan hingga mencapai permukaan Bumi. Meski demikian, risiko benda tersebut membahayakan manusia dinilai sangat kecil.
Swift memiliki massa kering sekitar 613 kilogram. Wahana tersebut membawa tiga instrumen utama, yakni Burst Alert Telescope, X-Ray Telescope, dan Ultraviolet/Optical Telescope.
Peneliti teknis senior LeoLabs Darren McKnight mengatakan ukuran dan struktur Swift membuat wahana tersebut kemungkinan mengalami kehancuran cukup parah ketika memasuki atmosfer. Meski begitu, beberapa komponen dengan material yang lebih kuat berpotensi bertahan.
“Teleskop sinar-X dan teleskop optik, jadi bagian dalam perangkat tersebut mungkin akan selamat,” kata McKnight.
Komponen seperti lensa optik dan tangki berbahan titanium disebut sebagai bagian yang berpotensi mencapai permukaan Bumi.
Lokasi Belum Dipastikan
Lokasi jatuhnya puing-puing Swift milik NASA juga belum dapat dipastikan. Peneliti Ewan Wright dari University of British Columbia mengatakan orbit Swift memiliki kemiringan sekitar 21 derajat. Artinya, wahana tersebut berpotensi memasuki atmosfer di wilayah antara sekitar 21 derajat lintang utara hingga 21 derajat lintang selatan.
Sebagian besar wilayah tersebut merupakan lautan sehingga peluang puing-puing jatuh ke laut cukup besar. Namun, kemungkinan memasuki wilayah daratan dan kawasan berpenduduk tetap ada.
Kembalinya Swift ke Bumi juga menjadi gambaran mengenai tantangan yang semakin besar di orbit Bumi. Semakin banyak satelit dan roket yang mengakhiri masa operasinya tanpa dapat dikendalikan untuk masuk kembali ke atmosfer, semakin besar pula jumlah benda yang berpotensi menjadi puing jatuh ke permukaan Bumi.
Meski risiko terhadap manusia dalam kasus Swift diperkirakan sangat kecil, perjalanan teleskop tersebut dari orbit menuju Bumi menjadi pengingat bahwa benda buatan manusia di luar angkasa pada akhirnya harus menghadapi persoalan yang sama: bagaimana mengakhiri masa operasinya dengan aman. (H-4)


















































