The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Mayoritas Pejabat Proyeksikan akan Naik Lagi

3 days ago 2
The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Mayoritas Pejabat Proyeksikan akan Naik Lagi Ilustrasi.(Antara Foto)

BANK Sentral Amerika Serikat yakni The Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4% pada Rabu (16/9). Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak 2023, sekaligus berlawanan dengan desakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta suku bunga diturunkan.

Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh Federal Open Market Committee (FOMC), komite pembuat kebijakan The Fed. Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan kenaikan suku bunga diperlukan untuk mengendalikan inflasi yang dinilai masih terlalu tinggi dan telah berlangsung terlalu lama.

"Fakta sederhananya adalah inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama," ujar Warsh dalam konferensi pers mengutip AFP, Kamis (17/9).

Menurutnya, keputusan menaikkan suku bunga merupakan keputusan serius, tetapi diperlukan untuk meredam tekanan inflasi.

Kenaikan suku bunga pada Rabu juga berpotensi bukan menjadi yang terakhir pada tahun ini. Berdasarkan Summary of Economic Projections (SEP), menunjukkan sedikitnya 12 dari 18 pejabat The Fed yang berpartisipasi dalam proyeksi memperkirakan masih diperlukan satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Sementara itu, empat pejabat memperkirakan diperlukan dua kali kenaikan suku bunga tambahan.

Masyarakat dan pelaku usaha Amerika Serikat telah menghadapi tekanan akibat inflasi yang berada di atas target selama beberapa tahun. Harga-harga juga meningkat setelah perang Iran, kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, serta berlanjutnya lonjakan investasi dan aktivitas di sektor kecerdasan buatan (AI).

Trump merespons keputusan tersebut dengan marah. Ia menyebut kenaikan suku bunga itu sebagai kenaikan melawan Trump dan menuduh komite penetapan suku bunga The Fed yang disebutnya bermusuhan mengambil keputusan karena alasan politik.

Sejak menjabat, Trump telah melancarkan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap independensi The Fed. Trump berupaya memberhentikan seorang gubernur The Fed dan meluncurkan penyelidikan kriminal terhadap pendahulu Warsh dalam upayanya mendorong suku bunga lebih rendah untuk meningkatkan aktivitas ekonomi.

The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga sejak Januari untuk melihat dampak lonjakan harga energi akibat perang Iran serta dampak kebijakan tarif terhadap harga barang di perekonomian.

Namun, sejak Juli, semakin banyak pejabat The Fed mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk menekan inflasi. Perang yang terus berlangsung membuat harga tetap tinggi, terutama harga energi.

Pada Jumat, data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Agustus tercatat 3,4%. Angka tersebut tidak berubah dari bulan sebelumnya, tetapi masih jauh di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar 2%.

Kepala Ekonom KPMG Diane Swonk mengatakan tekanan inflasi telah memaksa The Fed mengambil keputusan tersebut.

"Tekanan harga masih terlalu tinggi dan terlalu persisten untuk diabaikan oleh pembuat kebijakan, sementara ekonomi dan pasar tenaga kerja masih cukup kuat untuk menyerap kebijakan yang lebih ketat," ujar Swonk.

Dalam SEP, The Fed menaikkan proyeksi inflasi berdasarkan indikator pilihannya, yakni indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), sebesar 0,1 poin persentase menjadi 3,7% pada akhir tahun.

The Fed juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat hingga akhir tahun menjadi 2,3%, atau naik 0,1 poin persentase dari proyeksi sebelumnya.(AFP/H-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |