Tips Olahraga Aman: Pahami Perbedaan Antara Sehat dan Bugar

1 week ago 20
 Pahami Perbedaan Antara Sehat dan Bugar Ilustrasi(magnific)

DOKTER spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi ginjal dan hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto, SpPD, KGH, FINASIM, memberikan peringatan penting bagi masyarakat yang aktif berolahraga. Ia menekankan agar kebugaran fisik tidak dijadikan satu-satunya tolok ukur bahwa tubuh sepenuhnya terbebas dari risiko penyakit.

"Sehat dan bugar itu adalah dua hal yang berbeda," ujar Decsa dalam diskusi kesehatan, dikutip Minggu (13/9).

Menurut Decsa, individu yang mampu mencapai performa olahraga tertentu sering kali terjebak dalam rasa percaya diri berlebih (overconfident) terhadap kondisi kesehatannya. Padahal, kemampuan fisik yang prima saat berolahraga tidak selalu mencerminkan kondisi organ tubuh secara menyeluruh.

Waspada Fenomena 'Overconfident'

Ia mengamati bahwa banyak pegiat olahraga merasa menjadi orang yang paling sehat dan kuat setelah berhasil mencapai target tertentu. Namun, Decsa mengingatkan bahwa faktor risiko kesehatan tetap harus dipantau secara berkala, terlepas dari seberapa sering seseorang berolahraga.

Berikut adalah beberapa faktor risiko yang tetap harus diperhatikan oleh individu yang aktif berolahraga:

Faktor Risiko Keterangan Penting
Tekanan Darah Indikator utama kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Riwayat Keluarga Faktor genetika yang memengaruhi risiko penyakit degeneratif.
Gaya Hidup Meliputi pola makan, kualitas tidur, dan tingkat stres.
Kondisi Organ Detak jantung dan fungsi organ dalam lainnya.

Prinsip 'Know Your Limit'

Dokter lulusan Universitas Airlangga ini menyarankan agar masyarakat yang ingin meningkatkan intensitas olahraga melakukannya secara bertahap. Ia menegaskan pentingnya membangun fondasi kebugaran terlebih dahulu dan memahami kemampuan tubuh masing-masing.

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kebiasaan membandingkan performa melalui aplikasi olahraga. Hal ini sering kali mendorong seseorang untuk memaksakan diri demi mengejar pace atau pencapaian orang lain tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh sendiri.

"Know your limit. Jadi kita harus tahu limit, batasan kita ini sampai mana," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa memperhatikan indikator tubuh seperti detak jantung jauh lebih penting daripada sekadar mengejar angka performa.

Meski demikian, Decsa tetap mewajibkan masyarakat untuk berolahraga karena aktivitas fisik sangat penting untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Kuncinya adalah penyesuaian intensitas dengan kemampuan individu.

"Bukan berarti tidak boleh. Wajib harus olahraga. Tapi kita harus tahu batasan. Tahu juga kemampuan, kapan harus berhenti dan bilang setop," pungkasnya. (Ant/Z-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |