Tom Cruise.(Youtube GQ South Africa)
AKTOR legendaris Tom Cruise baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-64. Dalam wawancara mendalam bersama Zach Baron dari GQ South Africa yang tayang perdana pada Rabu (16/9), bintang aksi yang dikenal lewat berbagai aksi berbahaya ini berbicara terbuka mengenai filosofi hidupnya, pandangannya tentang kematian, serta proyek film terbarunya yang keluar dari zona nyaman.
Tom Cruise dikenal secara global sebagai aktor yang kerap menantang maut, mulai dari mengendarai sepeda motor melompati ujung tebing hingga bergelantungan di sisi pesawat terbang. Ketika ditanya apakah dirinya takut akan kematian, Cruise memberikan jawaban yang filosofis.
"Saya melihat hidup sebagai petualangan dan selalu begitu. Apakah saya takut mati? Tidak, saya tidak takut. Namun, saya tidak keberatan merasakan perasaan takut itu sendiri. Saya tidak takut untuk merasa takut," ujar Cruise.
Cruise menjelaskan bahwa rasa takut merupakan bagian dari ketidakpastian hidup yang justru ia nikmati untuk diubah menjadi suatu kepastian melalui latihan keras. Ia juga menceritakan kilas balik masa kecilnya saat berusia empat tahun saat ia mencoba melompat dari atap rumah menggunakan sprei tempat tidur sebagai parasut darurat setelah terinspirasi oleh mainan G.I. Joe miliknya. Aksi tersebut gagal dan membuatnya sadar bahwa ia harus mempelajari mekanismenya dengan benar suatu hari nanti.
Film Digger dan Evolusi Karier Sinematik
Wawancara ini juga menyoroti film terbaru Cruise berjudul Digger yang menjadi film non-aksi dan nonwaralaba pertamanya setelah sekian lama. Film ini disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu, sutradara yang telah lama dikagumi Cruise sejak menyaksikan karya awalnya, Amores Perros.
Menanggapi anggapan bahwa generasi muda saat ini hanya mengenalnya sebagai bintang film aksi, Cruise menyanggahnya. Menurutnya, berkat platform seperti Netflix dan televisi kabel, perpustakaan filmnya dapat diakses oleh tiga hingga empat generasi penonton secara global, mirip dengan musik The Beatles tetap dikenal lintas generasi.
Bagi Cruise, karier filmnya bukanlah tentang memilih sutradara besar semata, melainkan evolusi dan tantangan konstan. "Membuat film adalah tentang memahami bagaimana menggunakan alat-alat sinema untuk berkomunikasi dengan audiens yang lebih luas. Gerakan adalah emosi (motion is emotion)," jelasnya.
Impian Masa Kecil dan Etos Kerja CEO
Sejak kecil, Cruise memiliki kebiasaan menuliskan target dan tujuan hidupnya di suatu papan, lengkap dengan keterampilan yang harus ia pelajari untuk mencapainya. Karena impiannya dinilai terlalu besar oleh beberapa orang dewasa di sekitarnya, ia memilih untuk merahasiakan rencana tersebut sejak dini.
Tumbuh dengan berpindah-pindah sekolah--mengalami sekitar 15 sekolah dalam waktu 16 tahun--membentuk pemahaman Cruise yang kuat tentang perilaku manusia. Pada usia 18 tahun, ia bahkan sudah merasa seperti CEO bagi hidupnya sendiri karena harus mengelola pekerjaan dan bisnis secara mandiri.
"Saya selalu tahu bahwa saya bisa bekerja keras. Di dalam hati, saya selalu merasa bisa bekerja lebih keras daripada siapa pun," tegas Cruise mengenai etos kerjanya yang legendaris di lokasi syuting.
Cruise juga dikenal sering memberikan bimbingan dan berbagi ilmu sinematografi kepada aktor-aktor muda, salah satunya Glenn Powell yang pernah ikut menyaksikan video instruksional akting layar lebar berdurasi enam jam yang dibuat oleh Cruise. Di usianya yang ke-64, Cruise menegaskan bahwa ia tidak akan berhenti bermimpi dan terus belajar demi menjaga keberlanjutan seni perfilman dunia. (I-2)


















































