Transportasi Publik Ubah Cara Masyarakat Memilih Tempat Tinggal

3 weeks ago 33
Transportasi Publik Ubah Cara Masyarakat Memilih Tempat Tinggal Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan.(Dok. Jakarta Travel Guide)

AKSES terhadap transportasi publik semakin menjadi pertimbangan masyarakat urban dalam memilih tempat tinggal di kawasan penyangga Jakarta. Di tengah harga hunian di ibu kota yang relatif tinggi, waktu tempuh menuju pusat aktivitas kini ikut menentukan keputusan membeli rumah.

Kondisi ini mendorong pengembangan hunian di wilayah yang masih memiliki kedekatan dengan Jakarta sekaligus terhubung dengan jaringan transportasi massal. Salah satunya terlihat di kawasan Cireundeu, Ciputat, Tangerang Selatan, yang berada dekat dengan simpul transportasi Jakarta Selatan.

Synthesis Development melalui proyek Arsa Homes menawarkan hunian tapak yang berjarak sekitar lima menit dari Stasiun MRT Lebak Bulus. Lokasinya juga sekitar 10 menit dari kawasan bisnis TB Simatupang dan Pondok Indah.

Kedekatan terhadap MRT menjadi salah satu pertimbangan yang ditawarkan kepada kelompok keluarga muda dan pekerja yang beraktivitas di Jakarta, terutama mereka yang ingin tinggal di kawasan penyangga tanpa menghadapi perjalanan harian yang terlalu panjang.

Chief Operating Officer Synthesis Development Aldo Daniel mengatakan, kebutuhan konsumen terhadap hunian saat ini tidak lagi hanya berpusat pada bangunan rumah.

“Arsa Homes kami kembangkan sebagai pilihan hunian bagi keluarga dan profesional yang ingin tetap dekat dengan Jakarta, namun membutuhkan lingkungan tinggal yang lebih nyaman dan terencana. Bagi kami, akses, kualitas bangunan, fasilitas, serta kenyamanan sehari-hari perlu hadir sebagai satu kesatuan,” ujar Aldo.

Beradaptasi dengan Mobilitas Urban

Meningkatnya kebutuhan terhadap konektivitas juga mendorong pengembang mengombinasikan faktor lokasi dengan fasilitas di dalam kawasan. Arsa Homes, misalnya, dilengkapi clubhouse, kolam renang, gym, area bermain anak, serta sistem keamanan satu pintu dan CCTV.

Rumah-rumah di kawasan tersebut mengusung desain modern dengan bukaan besar untuk memaksimalkan pencahayaan alami. Dari sisi konstruksi, pengembang menggunakan pondasi tiang pancang.

Terdapat dua tipe rumah yang ditawarkan. Tipe Asha memiliki luas tanah 53 meter persegi dan bangunan 63 meter persegi, dengan tiga kamar tidur, dua kamar mandi, serta satu carport. Sementara tipe Naya dibangun di atas tanah 61 meter persegi dengan luas bangunan 78 meter persegi, tiga kamar tidur, dua kamar mandi, dan dua carport.

Pada pembukaan show unit Agustus 2026, unit Arsa Homes dipasarkan mulai kisaran Rp1,6 miliar untuk jumlah terbatas, dibandingkan harga normal mulai sekitar Rp1,9 miliar. Pengembang juga menawarkan skema pembiayaan melalui kredit pemilikan rumah (KPR) dengan cicilan mulai sekitar Rp8 juta per bulan.

Kehadiran proyek hunian di sekitar koridor MRT memperlihatkan bagaimana konektivitas transportasi semakin masuk dalam strategi pengembangan kawasan penyangga Jakarta. Bagi masyarakat urban, pertimbangan tempat tinggal pun mulai bergeser dari sekadar harga dan luas bangunan menuju efisiensi perjalanan sehari-hari.

Arsa Homes menambah portofolio Synthesis Development yang sebelumnya mengembangkan sejumlah proyek seperti Bassura City, Synthesis Homes, Synthesis Huis, Aksara Homes, dan The Belton Residence. (Z-10)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |