PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump.(Dok. AFP)
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya ingin melihat Irlandia bersatu. Pernyataan itu disampaikan saat melakukan kunjungan dua hari ke Irlandia, Sabtu (12/9).
Usai bertemu Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin di Dublin, Trump menyebut penyatuan Republik Irlandia dan Irlandia Utara sebagai hal yang fantastis.
"Saya ingin melihatnya. Menurut saya, itu akan menjadi hal yang fantastis," kata Trump dikutip dari AFP.
Trump meyakini penyatuan tersebut pada akhirnya akan terjadi. "Menurut cara saya melihatnya, itu akan terjadi pada akhirnya. Jadi, sebaiknya terjadi sekarang," ujarnya.
Namun, Trump mengakui Inggris tetap memiliki peran dalam persoalan tersebut. "Inggris tentu akan punya sesuatu untuk dikatakan mengenai hal itu," katanya.
Pulau Irlandia terpecah menjadi Republik Irlandia dan Irlandia Utara yang merupakan bagian dari Britania Raya sejak 1921. Berdasarkan Perjanjian Jumat Agung 1998, referendum penyatuan dapat digelar jika pemerintah Inggris menilai mayoritas warga Irlandia Utara kemungkinan mendukung bergabung dengan Republik Irlandia. Warga Republik Irlandia juga harus menyetujuinya.
Pernyataan Trump mendapat penolakan dari pemimpin Partai Unionis Demokratik (DUP), Gavin Robinson.
"Sebagai kaum unionis, kami tidak tertarik pada penghancuran negara kami dengan bergabung bersama Republik Irlandia," tulis Robinson di X.
Sementara itu, Trump dalam kunjungannya juga dijadwalkan menyaksikan turnamen golf Irish Open di resor miliknya di Doonbeg, County Clare. Sekitar 4.000 polisi dan personel keamanan dikerahkan untuk mengamankan kunjungan tersebut.
Kehadiran Trump turut menyoroti kaitan antara aktivitas kepresidenannya dan kepentingan bisnis keluarganya. Resor Doonbeg dibeli Trump Organization pada 2014. (AFP/H-3)


















































