UMKM belum Optimalkan Penggunaan AI

4 days ago 2
UMKM belum Optimalkan Penggunaan AI Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di kalangan UMKM disorot.(Dok. Exabite)

Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia masih menghadapi kesenjangan. Lebih dari 90% pelaku UMKM tercatat belum memanfaatkan AI secara optimal dalam proses bisnis mereka.

Kondisi tersebut menjadi tantangan di tengah semakin luasnya akses masyarakat terhadap teknologi digital. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dibandingkan 69,21% pada 2023.

Pemerintah juga mulai mendorong UMKM menggunakan AI sebagai salah satu instrumen untuk memperluas pasar. Menteri Perdagangan Budi Santoso, mendorong pelaku UMKM memanfaatkan AI untuk menunjang pemasaran digital.

"Teknologi tersebut dapat digunakan antara lain untuk melakukan riset pasar, membuat konten, menyusun strategi iklan, serta berkomunikasi dengan calon pembeli," kata Santoso belum lama ini.

Ia menilai pemanfaatan teknologi digital berpotensi membantu produk UMKM menjangkau konsumen lebih luas, termasuk pasar internasional.

Menurut dia transformasi digital UMKM kini tidak cukup berhenti pada kepemilikan akun media sosial atau situs web. Pelaku usaha perlu membangun fondasi digital yang memungkinkan teknologi digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi bisnis.

"AI, dapat dimanfaatkan untuk mencari ide pemasaran, membantu pembuatan konten, membangun dan mengembangkan situs web, melakukan optimasi mesin pencari, hingga mendukung sejumlah proses operasional bisnis," lanjutnya.

VP & Country Manager Exabytes Indonesia Indra Hartawan menilai tantangan berikutnya bukan lagi sebatas memperluas akses terhadap teknologi, tetapi memastikan AI dapat memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha.

“AI semakin dekat dengan UMKM Indonesia, terlihat dari semakin banyaknya penggunaan AI untuk desain, konten, dan pemasaran. Namun, adopsinya masih belum merata. Tantangannya sekarang bukan lagi apakah UMKM bisa mengakses AI, tetapi sejauh mana AI dapat membantu mereka bekerja lebih efektif, menghemat biaya, dan meningkatkan omzet,” kata Indra.

Namun, Indra menekankan AI tetap harus ditempatkan sebagai alat pendukung dan bukan menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan.

“Bagi kami, menjadi AI-ready bukan berarti setiap bisnis harus menjadi perusahaan teknologi atau memiliki tim AI sendiri. Yang lebih penting adalah memahami di mana AI benar-benar dapat memberikan dampak bagi bisnis, memiliki fondasi digital yang memadai, dan tetap memastikan manusia memegang kendali atas keputusan yang dibuat,” ujarnya.

Isu pemanfaatan AI secara bertanggung jawab juga menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyiapkan kerangka tata kelola melalui Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional 2026-2029 serta regulasi mengenai etika AI.

Kerangka tersebut diarahkan agar pengembangan dan pemanfaatan AI di Indonesia berjalan secara etis, aman, inklusif, transparan, dan bertanggung jawab.

Tantangan AI bukan hanya Ketersediaan Teknologi

Exabytes menilai persoalan adopsi AI di kalangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan teknologi. Kemampuan pelaku usaha menerjemahkan teknologi menjadi manfaat bisnis juga menjadi tantangan.

Karena itu, penggunaan AI bagi UMKM dinilai perlu dibuat lebih sederhana dan berorientasi pada persoalan sehari-hari yang dihadapi pelaku usaha, mulai dari pemasaran, pembuatan konten, efisiensi pekerjaan hingga perluasan pasar.

Exabytes menyatakan terus mengembangkan solusi digital yang mengintegrasikan kemampuan AI agar dapat digunakan pelaku usaha tanpa membutuhkan keahlian teknis yang mendalam.

“Digitalisasi UMKM tidak seharusnya menciptakan kesenjangan baru. Ketika teknologi berkembang semakin cepat, kita perlu memastikan bahwa pelaku usaha kecil juga memiliki kesempatan untuk ikut berkembang,” kata Indra.

Menurut dia, penyedia teknologi tidak cukup hanya menawarkan perangkat atau layanan, tetapi juga perlu membantu pelaku usaha memahami manfaat dan cara menggunakannya.

AI bukan Pengganti Manusia

Di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI, Exabytes menilai teknologi tersebut seharusnya digunakan sebagai alat pemberdayaan, bukan sebagai pengganti manusia.

Kolaborasi pemerintah, penyedia teknologi, pelaku industri, komunitas, dan UMKM dinilai diperlukan untuk memperluas pemanfaatan AI sekaligus meningkatkan literasi digital dan keamanan data.

Dengan pemanfaatan yang tepat, AI berpotensi membantu UMKM meningkatkan efisiensi operasional, memperluas pemasaran, serta menjangkau konsumen di pasar yang lebih luas.

“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan AI sebagai alat pemberdayaan bagi jutaan pelaku usaha. Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan tersebut, bukan hanya dengan menyediakan teknologi, tetapi membantu lebih banyak bisnis Indonesia memahami bagaimana AI bisa digunakan untuk kebutuhan nyata, mudah diakses, dan memberikan manfaat bagi bisnis mereka,” tutup Indra. (Z-10)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |