Walhi Jabar Dorong Burung Ekek Keling Sunda jadi Maskot Jawa Barat

3 weeks ago 14
Walhi Jabar Dorong Burung Ekek Keling Sunda jadi Maskot Jawa Barat Burung Ekek Keling Sunda.(Dok. Antara)

WAHANA Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat mendorong pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap burung ekek keling sunda atau Ekek Geling Jawa (Cissa thalassina). Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah menjadikannya sebagai ikon atau maskot resmi asal Jawa Barat.

Manager Divisi Pendidikan Walhi Jabar, M. Jefry Rohman, menjelaskan bahwa penetapan burung endemik ini sebagai maskot daerah bukan sekadar simbol, melainkan upaya meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga habitat dan kelestarian satwa yang kian terancam.

“Ini tentu bisa lebih luas berdampak pada situasi dan kondisi lingkungan, termasuk keberadaan hewan ini,” ujar Jefry di Bandung, Kamis (27/8/2026).

Ancaman Kepunahan dan Populasi Kritis

Jefry memperingatkan bahwa burung ekek keling sunda saat ini berada dalam bayang-bayang kepunahan. Faktor utama penyebab merosotnya populasi burung ini adalah kerusakan habitat yang masif serta praktik perburuan ilegal yang masih terjadi.

Berdasarkan data observasi, keberadaan burung ini masih terpantau di beberapa kawasan hutan seperti Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Namun, interaksi dan pemantauan di lapangan semakin sulit dilakukan karena jumlahnya yang sangat terbatas.

“Kalau di Jawa Barat itu terpantau masih ada beberapa. Cuma sulit kalau kita menjelajah atau observasi. Karena jumlahnya terbatas, maka interaksinya susah,” tambahnya.

Estimasi populasi burung ekek keling sunda yang masih bertahan di alam liar Jawa Barat saat ini diperkirakan hanya berkisar antara 50 hingga 250 ekor. Angka ini dinilai sangat mengkhawatirkan bagi keberlangsungan spesies tersebut.

Dampak Deforestasi

Walhi Jabar menekankan bahwa kelangsungan hidup satwa endemik tersebut sangat bergantung pada ketersediaan pepohonan dan sumber pakan alami. Deforestasi yang terus terjadi menjadi ancaman serius yang tidak hanya merusak ruang hidup satwa, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

“Kalau wilayahnya kritis, sudah tidak ada pepohonan, sudah tidak ada tempat untuk mencari makan, ya mau di mana lagi?” tegas Jefry.

Ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap lingkungan di Jawa Barat memiliki efek domino. Kerusakan pada komponen biotik maupun abiotik akan saling memengaruhi, sehingga perlindungan terhadap habitat ekek keling sunda menjadi mendesak untuk dilakukan demi menjaga keutuhan ekosistem Jawa Barat. (Ant/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |