Ilustrasi(MI/Marianus Marselus)
LIMA hari pascagempa yang mengguncang wilayah Lembor, warga Desa Pondo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda-tenda darurat.
Gempa susulan yang masih terjadi membuat warga enggan kembali ke rumah. Sebagian besar memilih tidur di bawah terpal sederhana karena khawatir bangunan yang rusak kembali runtuh saat guncangan terjadi.
Kondisi semakin sulit karena persediaan makanan dan air bersih mulai menipis.
Fransiskus Roden, warga Desa Pondo, mengatakan hingga hari kelima pascagempa, warga masih kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok.
Menurut Fransiskus, warga kini tidak hanya dihantui trauma akibat gempa susulan, tetapi juga mulai cemas karena keterbatasan makanan dan air bersih.
“Lima hari sudah kami bertahan seperti ini. Gempa susulan masih terjadi. Kami tidur di tenda karena takut kembali ke rumah. Yang paling kami khawatirkan sekarang makanan dan air bersih,” ujar Fransiskus Roden.
Ia mengatakan warga terpaksa mengandalkan sisa bahan makanan yang masih dapat diselamatkan dari rumah-rumah yang terdampak gempa.
Anak-anak dan warga lanjut usia menjadi kelompok yang paling rentan dalam kondisi tersebut.
“Warga hanya berharap bantuan segera datang. Kami tidak meminta banyak, hanya makanan dan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan kebutuhan penanganan darurat yang mendesak di Desa Pondo. Warga membutuhkan distribusi logistik secara langsung, terutama bahan makanan, air bersih, perlengkapan tidur, serta kebutuhan dasar bagi anak-anak dan lansia.
Lima hari setelah bencana, warga masih berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Di tengah ancaman gempa susulan dan kondisi tempat tinggal yang belum aman, mereka kini harus memastikan kebutuhan paling mendasar: makan dan minum untuk bertahan hidup.(MM/E-4)













































