Ilustrasi.(Magnific)
RATUSAN orang menggelar demonstrasi di depan Kedutaan Besar Israel di Bangkok, Tailan, Kamis (10/9). Aksi massa ini merupakan bentuk protes terhadap perilaku sejumlah wisatawan Israel yang dinilai mengganggu warga lokal serta mengabaikan kedaulatan dan aturan hukum di Negeri Gajah Putih tersebut.
Para demonstran membawa pesan tegas bahwa Tailan tidak untuk dijual. Slogan tersebut menjadi bagian dari kampanye yang dikenal dengan nama Rebut Kembali Tailan. Aksi ini dipicu oleh serangkaian perselisihan antara wisatawan Israel dan warga setempat yang kian memanas.
Salah satu insiden yang memicu kemarahan publik terjadi ketika seorang warga lokal memasang slogan free Palestine, yang kemudian berujung pada konflik dengan turis Israel. Turis tersebut dilaporkan mengeluarkan ancaman pembunuhan terhadap warga lokal tersebut.
Demonstrasi itu diinisiasi oleh mantan taipan media Tailan, Sondhi Limthongkul. Aksi berlangsung di tengah meningkatnya sorotan terhadap perilaku wisatawan Israel yang dituduh tidak menghormati adat istiadat Tailan. Selain perilaku personal, muncul tuduhan serius mengenai kepemilikan tanah secara ilegal, menjalankan bisnis tanpa izin, hingga pendirian tempat ibadah tanpa persetujuan resmi otoritas setempat.
Sejumlah Insiden Jadi Sorotan Nasional
Ketegangan itu semakin meningkat terutama setelah pecahnya perang Israel-Hamas di Gaza pada Oktober 2023. Pada Juli lalu, Kementerian Dalam Negeri Tailan memperluas penyelidikan terhadap bisnis milik warga asing setelah seorang wisatawan Israel berselisih dengan petugas saat pemeriksaan di Rumah Chabad Yahudi.
Dalam insiden itu, turis tersebut dilaporkan menantang petugas dengan pernyataan kontroversial, "Apakah kalian tidak tahu ini adalah wilayah Israel?" Pernyataan ini memicu respons keras dari Menteri Dalam Negeri Tailan setelah menjadi pemberitaan luas.
Insiden lain yang mencoreng citra wisatawan terjadi pada November 2025, ketika pasangan suami istri asal Israel ditangkap di Pulau Koh Phangan karena melakukan hubungan seksual di fasilitas umum air terjun. Rangkaian kejadian ini bahkan mendorong sejumlah pelaku usaha lokal menerapkan kebijakan untuk tidak menerima tamu warga Israel.
Dalam orasinya, Sondhi Limthongkul menyampaikan kritik tajam. "Keramahtamahan tidak sama dengan penyerahan diri pada eksploitasi dan kesopanan bukanlah izin terbuka bagi siapa pun untuk bertindak tanpa hukuman di tanah kedaulatan kita. Kesabaran rakyat Tailan telah mencapai batasnya," tegas Sondhi.
Pemerintah Tailan Panggil Duta Besar Israel
Merespons keresahan masyarakat, pemerintah Tailan mengambil langkah diplomatik dengan memanggil Duta Besar Israel untuk Tailan, Alona Fisher-Kamm. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Tailan, Sihasak Phuangketkeow, bertemu langsung dengan Dubes Israel di Bangkok.
Sihasak menegaskan bahwa meskipun Tailan tetap terbuka bagi wisatawan mancanegara, setiap pengunjung wajib menghormati hukum dan aturan yang berlaku. Ia menekankan bahwa status sebagai wisatawan tidak memberikan hak bagi siapa pun untuk bertindak semena-mena.
Menurut Sihasak, keluhan masyarakat terutama banyak muncul di wilayah tujuan wisata Tailan bagian selatan, seperti Phuket dan Phang Nga. Saat ini, pemerintah Tailan menghadapi tantangan besar untuk menyeimbangkan keterbukaan sektor pariwisata dengan penegakan hukum serta penghormatan terhadap budaya lokal. (I-2)


















































