Penggunaan smart glasses untuk merekam siswi secara diam-diam di sekolah memicu kekhawatiran privasi dan perundungan digital.(Dok. Magnific)
PENGGUNAAN kacamata pintar atau smart glasses kembali menjadi sorotan setelah beredar video di TikTok yang memperlihatkan seorang remaja laki-laki merekam interaksi dengan seorang siswi di lingkungan sekolah secara diam-diam. Video dengan sudut pandang orang pertama (POV) tersebut memicu kekhawatiran publik mengenai penyalahgunaan teknologi untuk mengganggu privasi orang lain.
Dalam laporan yang dikutip dari Futurism, remaja tersebut terlihat menggunakan smart glasses saat mendekati dan meminta akun media sosial seorang siswi secara paksa. Meski siswi tersebut menolak dan menghindar, pelaku terus mengikuti sambil merekam, yang menciptakan situasi tidak nyaman bagi korban. Perangkat seperti produk Meta ini memungkinkan perekaman video hands-free tanpa disadari oleh subjek yang direkam.
Fenomena ini ternyata bukan kasus tunggal. Penelusuran lebih lanjut menemukan berbagai konten serupa yang diambil di lorong, kantin, hingga ruang kelas tanpa persetujuan siswa maupun staf sekolah. Hal ini mempertegas risiko privasi, di mana korban tidak memiliki kesempatan untuk menolak rekaman mereka disebarluaskan ke platform media sosial.
Masalah ini melampaui sekadar privasi individu. Ketika rekaman digunakan untuk mempermalukan atau mendapatkan atensi melalui konten prank, teknologi ini bertransformasi menjadi sarana perundungan digital (cyberbullying). Washington Post sebelumnya juga melaporkan adanya resistensi dari kalangan muda yang merasa terancam oleh keberadaan kamera tersembunyi pada aksesori sehari-hari.
Platform media sosial kini menghadapi tekanan besar untuk memperketat moderasi. Meta, sebagai salah satu produsen utama, didesak untuk menindak tegas konten yang melibatkan pelecehan atau perekaman tanpa izin. Meskipun smart glasses dirancang untuk membantu navigasi dan komunikasi, fitur kamera yang diskret menuntut kesadaran etika yang lebih tinggi dari penggunanya.
Kasus di lingkungan pendidikan ini menjadi pengingat penting bagi sekolah dan orang tua untuk memberikan edukasi mengenai batasan privasi digital. Di tengah masifnya perangkat wearable, kemampuan untuk merekam tidak boleh disalahartikan sebagai kebebasan untuk melanggar ruang aman dan kenyamanan orang lain, terutama anak-anak dan remaja. (Futurism/Z-10)


















































